Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

REKOMENDASI SAHAM: Ini Alasan Bahana Rekomendasikan Koleksi Indah Kiat (INKP)

Saham emiten produsen pulp dan kertas dinilai akan prospektif mulai tahun ini, setelah selama 10 tahun terakhir mengalami tekanan akibat era digitalisasi yang membuat kebutuhan kertas menurun.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 19 Maret 2018  |  12:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten produsen pulp dan kertas dinilai akan prospektif mulai tahun ini, setelah selama 10 tahun terakhir mengalami tekanan akibat era digitalisasi yang membuat kebutuhan kertas menurun.

Analis Bahana Sekuritas Gregorius Gary menyampaikan, salah satu faktor pengerek kinerja industri pulp dan kertas adalah kelahiran industri e-commerce. Pasalnya, bubur kertas juga akan digunakan untuk membuat kemasan.

“Ke depan, kebutuhan akan tisu di dunia akan semakin tinggi seiring dengan meningkatnya gaya hidup masyarakat demikian juga permintaan akan kertas kemasan akan semakin besar karena orang semakin menyukai belanja secara online,'' ungkap Gregorius melaui keterangan resmi, Senin (19/3/2018).

Gregorius mengungkapkan peningkatan permintaan kertas terutama akan didorong oleh Cina yang menguasai 26% dari total konsumsi kertas dunia. Saat ini, konsumsi per kapita Cina untuk kertas tisu masih sangat rendah yakni sekitar 7 kg/kapita, bandingkan dengan Amerika sekitar 22 kg/kapita, Eropa sekitar 17 kg/kapita dan Jepang sekitar 14 kg/kapita.

Konsumsi kertas kemasan Cina baru sekitar 50 kg/kapita, masih rendah dibandingkan dengan Amerika sekitar 128 kg/kapita, Jepang sekitar 91 kg/kapita, Eropa sekitar 78 kg/kapita. Hal tersebut membuka ruang peningkatan permintaan atas tisu dan kertas kemasan dari Cina.

Data menunjukkan sejak 2006 hingga 2016, produksi bubur kertas di China meningkat dari sekitar 52 juta ton menjadi sekitar 79 juta ton, sedangkan konsumsi meningkat lebih cepat dari sekitar 60 juta ton menjadi sekitar 97 juta ton, sehingga defisit akan semakin lebar.

Untuk menutupi defisit ini, Cina terus melakukan impor bubur kertas, terutama dari Indonesia dan Brazil. Gregorius menilai bahwa Indonesia dan Brazil akan semakin diuntungkan karena hingga saat ini cuma dua negara ini yang masih dapat meningkatkan jumlah produksinya dan memiliki biaya produksi lebih murah dibandingkan dengan negara lain.

''Pemerintah Cina juga dalam 2 tahun terakhir semakin gencar melarang produksi kertas dengan menggunakan limbah kertas, ini akan semakin memberi dampak positif bagi industri bubur kertas di Indonesia,'' ungkap Gregorius.

Oleh karena itu, Bahana Sekuritas memberi rekomendasi Beli untuk saham PT Indah Kiat Pulp and Paper dengan target harga Rp16.000/lembar.

Sekuritas milik negara tersebut memperkirakan harga bubur kertas masih akan naik hingga 2019, dari kisaran harga $636/ton pada 2017 atau naik sekitar 26% secara tahunan, yang dipengaruhi oleh beberapa hal, terutama diperkirakan belum akan ada tambahan kapasitas produksi di dunia sepanjang tahun ini.

Meski demikian, grup Asia Pulp and Paper (APP) milik Sinarmas meningkatkan kapasitas produksi anak usahanya PT OKI dan juga peningkatan kapasitas produksi pabrik Fibria di Brazil. Untuk membuka pabrik atau industri baru biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun.

Bahana memperkirakan laba bersih PT Indah Kiat akan naik menjadi $545 juta pada akhir 2018, atau naik sekitar 32% dibanding perkiraan akhir tahun lalu sekitar $412 juta. Bila pada tahun ini kenaikan harga bubur kertas sama dengan tahun lalu sebesar 26% ke kisaran $800/ton, laba bersih ini sangat mungkin naik sekitar 45% ke kisaran $596 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bahana securities indah kiat
Editor : Riendy Astria

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top