Rencana Tatap Muka Trump-Kim Jong Un Bebani Yen, Dolar AS Menguat

Kinerja dolar AS menguat pada perdagangan pagi ini, Jumat (9/3/2018), ditopang meningkatnya harapan dari kebuntuan nuklir Korea Utara setelah Presiden Donald Trump dikabarkan bersedia menerima undangan untuk bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong Un.
Renat Sofie Andriani | 09 Maret 2018 11:04 WIB
Uang dolar AS. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja dolar AS menguat pada perdagangan pagi ini, Jumat (9/3/2018), ditopang meningkatnya harapan dari kebuntuan nuklir Korea Utara setelah Presiden Donald Trump dikabarkan bersedia menerima undangan untuk bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong Un.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik 0,03% atau 0,025 poin ke level 90,204 pada pukul 10.21 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka turun tipis 0,025 poin atau 0,03% di level 90,154, setelah pada perdagangan Kamis (8/3) berakhir menguat 0,60% atau 0,542 poin di posisi 90,179.

Kepala dewan Keamanan Nasional Korea Selatan Chung Eui-yong kepada wartawan di Washington, mengungkapkan bahwa Kim Jong Un menyatakan keinginan untuk bertemu Presiden Trump sesegera mungkin.

Sementara itu, Trump disebut bersedia bertemu dengan Kim Jong Un pada bulan Mei untuk mencapai denuklirisasi permanen.

“Pergerakan dolar AS terhadap yen menguat didorong pemberitaan tentang Korea Utara yang sekaligus memperbaiki sentimen untuk aset berisiko,” ujar Stephen Innes, kepala perdagangan di Asia Pasifik untuk Oanda di Singapura, seperti dikutip Reuters.

Penguatan dolar AS terhadap yen sebelumnya telah ditopang sentimen meredanya kekhawatiran akan potensi perang dagang global.

Trump tetap memberlakukan tarif impor pada baja dan aluminium, namun melunakkan pendiriannya dengan mengumumkan pengecualian untuk Kanada dan Meksiko, serta membuka peluang bagi negara lain untuk mengajukan pengecualian.

“Ada banyak potensi pengecualian, jadi saya pikir daya tarik safe haven untuk yen telah menyusut,” kata Roy Teo, pakar strategi investasi untuk LGT Bank di Singapura.

Seperti diketahui, daya tarik aset safe haven, di antaranya mata uang yen, cenderung naik di tengah meningkatnya tensi global yang mendorong investor menghindari aset berisiko.

Pekan lalu, dolar AS turun ke posisi terendah dalam 16 bulan terhadap yen akibat tertekan kekhawatiran tentang perang dagang yang mencengkeram pasar, setelah Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor baja dan aluminium pada Kamis (1/3).

Nilai tukar yen hari ini terpantau lanjut melemah 0,39% atau 0,41 poin ke level 106,64 per dolar AS pada pukul 10.31 WIB, setelah berakhir melemah 0,15% di posisi 106,23 pada perdagangan Kamis (8/3).

Sementara itu, nilai tukar euro lanjut terkoreksi 0,01% ke US$1.2311 pada pukul 10.40 WIB, setelah berakhir melemah 0,80% di posisi 1,2312 pada perdagangan kemarin.

Euro melanjutkan koreksinya setelah Gubernur European Central Bank (ECB) Mario Draghi, meskipun mengakui pertumbuhan yang lebih cepat di Eropa, mengatakan bahwa inflasi regional tetap lemah dan meningkatnya langkah proteksionisme adalah sebuah risiko.

Posisi indeks dolar AS                                       

9/3/2018

(Pk. 10.21 WIB)

90,204

(+0,03%)

8/3/2018

90,179

(+0,60%)

7/3/2018

89,637

(+0,02%)

6/3/2018

89,618

(-0,51%)

5/3/2018

90,080

(+0,16%)

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

 

 

 

 

 

 

 

Tag : Donald Trump, dolar as
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top