Adaro (ADRO) Gunakan Belanja Modal US$229 Juta

Emiten tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk., (ADRO) merealisasikan penggunaan belanja modal sebesar US$229 juta pada 2017.
Hafiyyan | 07 Maret 2018 14:19 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten tambang batu bara PT Adaro Energy Tbk., (ADRO) merealisasikan penggunaan belanja modal sebesar US$229 juta pada 2017.

Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan, belanja modal perusahaan pada 2017 mencapai US$229 juta. Nilainya sesuai dengan panduan capex tahun lalu di kisaran US$200 juta-US$250 juta.

“Belanja modal dipakai untuk pemeliharaan rutin, pembelian untuk penggantian alat berat, dan pengembangan aset batubara metalurgi,” tuturnya dalam siaran pers, Selasa (7/3/2018).

Realisasi capex 2017 melonjak 186% dari 2016 senilai US$80 juta. Pada 2018 perusahaan menganggarkan capex senilai US$750 juta—US$900 juta.

Head of Corporate Communication Division PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) Febriati Nadira menuturkan, alokasi capex 2018 sebagian besar untuk pembelian alat berat dan pengembangan Adaro MetCoal Companies (AMC).

“Sumber pendanaan belanja modal berasal dari kas internal. Namun, perseroan akan melihat kemungkinan sumber pendanaan lainnya ke depan,” ujarnya.

ADRO sebelumnya telah memiliki 25% saham AMC sejak 2011. Perseroan kemudian mengakuisisi 75% saham AMC dari BHP Billiton dengan harga US$120 juta pada pertengahan 2016.

Pada 2017, total produksi AMC mencapai 900.000 ton, sedangkan penjualan sejumlah 740.000 ton. Konsumen batu bara kokas perseroan ialah Eropa, Jepang, India, China, dan Indonesia.

Menurut analis riset di Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hady, ADRO bisa saja mengalokasikan belanja modal dari kas internal hingga US$900 miliar.

Sampai akhir 2017, posisi kas ADRI mencapai US$1,2 miliar. Nilai itu meningkat 12% dari tahun sebelumnya sebesar US$1,08 miliar.

“Utang perbankan atau penerbitan obligasi bisa menjadi pilihan bagi perusahaan kalau mau menambah belanja modal.”

Tag : adaro, adaro energy
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top