Daya Tarik Minyak Mentah Terdorong, WTI Dekati US$64 Per Barel

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil mencapai level tertinggi dalam tiga pekan pada akhir perdagangan Senin (26/2/2018), seiring dengan penguatan pada pasar saham yang memacu optimisme mengenai efek pertumbuhan ekonomi terhadap dorongan permintaan energi.
Renat Sofie Andriani | 27 Februari 2018 06:48 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil mencapai level tertinggi dalam tiga pekan pada akhir perdagangan Senin (26/2/2018), seiring dengan penguatan pada pasar saham yang memacu optimisme mengenai efek pertumbuhan ekonomi terhadap dorongan permintaan energi.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2018 ditutup naik 36 sen di US$63,91 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah sempat turun ke level 63,06. Total volume yang diperdagangkan mencapai sekitar 31% di bawah rata-rata 100 hari.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman April 2018 berakhir naik 19 sen di US$67,50 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global tersebut diperdagangkan premium sebesar US$3,59 terhadap WTI.

Dilansir Bloomberg, saham bluechip mencapai tingkat yang tidak terlihat sejak awal bulan ini, sementara pergerakan dolar AS turun dari kenaikan sebelumnya, sehingga meningkatkan daya tarik minyak mentah.

Harga minyak AS pun bergerak menghampiri kisaran US$64 per barel, terlepas dari komentar Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih akhir pekan kemarin tentang penghapusan upaya pembatasan produksi yang telah berlaku sejak akhir 2016 secara bertahap.

“Baiknya performa ekuitas adalah elemen terpenting, korelasi relatif dengan ekuitas saat ini serta korelasi terhadap aset berisiko,” kata Bob Yawger, director of futures di Mizuho Securities USA Inc., seperti dikutip Bloomberg.

Harga minyak di New York telah meningkat sekitar 8% dalam dua pekan terakhir ditopang upaya pembatasan produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan aliansinya seperti Rusia, demi mengatasi kelebihan suplai global.

Pada Sabtu (24/2), Menteri Al-Falih mengatakan mengingat jumlah persediaan berlebih terlihat menyusut, langkah berikutnya bagi para produsen utama kemungkinan adalah menghapuskan upaya pembatasan produksi sedikit demi sedikit.

“Upaya pembatasan produksi kemungkinan akan dikurangi sekitar tahun 2019, namun kami masih belum pasti kapan atau bagaimana melakukannya,” ujar Al-Falih di New Delhi.

Tag : Harga Minyak
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top