SUKUK RITEL SR-010: Pemerintah Sebut Sejumlah Agen Penjual Minta Tambahan Jatah

Pemerintah mengatakan bahwa beberapa agen penjual surat berharga syariah negara atau SBSN yang menyasar investor ritel atau sukuk ritel SR-010 telah mengajukan penambahan kuota penjualan seiring meningkatnya permintaan dari investor ritel.
Emanuel B. Caesario | 27 Februari 2018 17:42 WIB
Dirjen DJPPR Kementerian Keuangan Luky Alfirman membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia Jumat (23/2/2018) sekaligus memulai masa penawaran Sukuk Negara Ritel seri SR-010, didampingi Dirut KSEI Friderica Widyasari Dewi, Direktur BEI Alpino Kianjaya, Direktur BEI Nicky Hogan. Bisnis - Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mengatakan bahwa beberapa agen penjual surat berharga syariah negara atau SBSN yang menyasar investor ritel atau sukuk ritel SR-010 telah mengajukan penambahan kuota penjualan seiring meningkatnya permintaan dari investor ritel.

Luky Alfirman, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan bahwa minat investor atas instrumen tersebut cukup tinggi, terlepas dari besaran kuponnya yang oleh sebagian kalangan dianggap rendah.

Kupon sukuk ritel atau sukri SR-010 ditetapkan sebesar 5,9%, lebih rendah 100 bps dibandingkan seri SR-009 yang diterbitkan tahun lalu, tetapi lebih tinggi 5 bps dibandingkan kupon obligasi ritel Indonesia seri ORI-014 tahun lalu.

“Beberapa agen sudah minta tambahan alokasi. Kita kasih alokasi indikatif di awal, beberapa minta tambahan alokasi. Jadi, demand-nya cukup baik. Saya belum bisa bicara angka, tetapi nanti kira-kira setelah 2 minggu akan jauh lebih kelihatan seperti apa hasilnya,” katanya di saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (27/2/2018).

Adapun, sukri SR-010 mulai dipasarkan kepada investor ritel sejak Jumat (23/2/2018) pekan lalu, atau baru tiga hari dipasarkan. Berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, pada penerbitan sukri tahun ini pemerintah tidak mengumumkan target indikatif total.

Tahun lalu, sukri SR-009 ditargetkan sebesar Rp20 triliun, tetapi hanya terserap Rp14,03 triliun. Tidak tercapainya target disinyalir karena penurunan kupon yang sangat dalam dibandingkan seri sebelumnya yang kuponnya mencapai 8,3%.

Demikian juga ORI-014 hanya mendulang minat Rp8,98 triliun. Realisasi ini hanya 67% dari target atau angka kesanggupan penjualan oleh para agen, yakni Rp13,39 triliun.

Meski pemerintah tidak mengumumkan target indikatif penerbitan SR-010, tetapi rupanya masing-masing agen masih ditetapkan jatah penjualan. Pada saat pembukaan masa penawaran sukri SR-010 Jumat lalu (23/2/2018), tidak semua agen mengakui hal tersebut.

Luky mengatakan, setiap agen berhak untuk mengajukan peningkatan jatah bila memang mendapatkan permintaan yang tinggi dari nasabahnya. Menurutnya, bila melihat perkembangan penjualan dalam 3 hari terakhir yang sudah mulai menunjukkan kelebihan permintaan, dirinya optimistis penjualan SR-010 akan tinggi tahun ini.

Meski begitu, setinggi-tingginya minat investor yang masuk dalam penawaran sukri kali ini, pemerintah hanya menargetkan emisi surat utang Rp30 triliun bagi investor ritel. Selain sukri, nilai tersebut sudah termasuk emisi ORI dan SBN ritel online.

Tag : sukuk ritel
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top