Impor China Naik, Minyak Ikut Terkerek

Harga minyak mentah dunia meningkat seiring dengan menguatnya impor dari China. Pada perdagangan Jumat (29/12/2017), pukul 08.50 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terpantau naik 0,06 poin atau 0,10% menjadi US$59,90 per barel di New York Merchantile Exchange. Adapun minyak Brent menguat 0,28 poin atau 0,42% menuju US$66,72 per barel di ICE futures Europe yang berbasis di London.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 29 Desember 2017  |  09:08 WIB
Impor China Naik, Minyak Ikut Terkerek
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah dunia meningkat seiring dengan menguatnya impor dari China.

Pada perdagangan Jumat (29/12/2017), pukul 08.50 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terpantau naik 0,06 poin atau 0,10% menjadi US$59,90 per barel di New York Merchantile Exchange. Adapun minyak Brent menguat 0,28 poin atau 0,42% menuju US$66,72 per barel di ICE futures Europe yang berbasis di London.

Dilansir dari Bloomberg, harga minyak naik tipis pada hari Kamis dan melanjutkan reli pada hari ini setelah data menunjukkan adanya permintaan yang kuat pada impor minyak mentah di China dan mendorong berkurangnya persediaan pada penyulingan minyak mentah AS.

Departemen Energi AS mengatakan bahwa stok minyak mentah AS turun 4,6 juta barel pada pekan ini. Persediaan di luar cadangan strategis nasional telah menurun lebih dari 11% pada tahun lalu.

Sementara itu, data Xinhua menunjukkan persediaan minyak mentah China pada bulan November mencapai titik terendah dalam 7 tahun terakhir di 26,15 juta ton. Hal ini mendorong peningkatan impor.

"Pada pekan lalu, permintaan yang kuat untuk produk olahan, terutama sulingan, terus mendorong penyuling untuk mengolah minyak mentah dengan harga yang meningkat," kata David Thompson, Executive Vice President Powerhouse, broker komoditas khusus energi di Washington.

Pekan ini, WTI telah menembus US$60 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni 2015, sedangkan Brent mencapai posisi US$67 untuk pertama kalinya sejak Mei 2015.

Harga minyak kembali memperlihatkan pengetatan yang dipicu upaya pemangkasan produksi yang dipimpin anggota Organization of Petrpleum Exporting Countries (OPEC) yang didominasi Timur Tengah dan Rusia. Hal itu dilakukan sejak Januari 2017 dan dijadwalkan berlanjut tahun depan.

Menghadapi pengurangan produksi itu, Energy Information Administration (EIA) menyatakan produksi minyak AS telah melonjak lebih dari 16% sejak pertengahan 2016 dan mendekati 10 juta barel per hari. Realisasi ini melampaui produksi negara penghasil minyak besar seperti Arab Saudi dan Rusia.

Pada pekan ini, produksi AS turun tipis menjadi 9,75 juta barel per hari dari 9,79 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Selain itu, pemadaman pipa di Libya dan Laut Utara juga mendukung harga. Pasokan minyak Libya terganggu dan menyebabkan pemotongan produksi sekitar 70.000 barel per hari pada Kamis (28/12). Di Laut Utara, kapasitas 450.000 barel per hari dari pipa Forties ditutup bulan ini setelah ditemukan retakan pada jaringan pipa itu. Kedua jaringan pipa tersebut diperkirakan akan kembali beroperasi normal pada awal Januari 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top