Pasar Asia Mixed di Awal Perdagangan, Investor Tunggu Pidato Yellen

Sejumlah indeks saham di Asia bergerak mixed pada awal perdagangan hari ini, Selasa (26/9/2017), seiring dengan berkurangnya kekuatan emas dan yen sebagai aset safe haven.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 September 2017  |  08:32 WIB
Pasar Asia Mixed di Awal Perdagangan, Investor Tunggu Pidato Yellen
Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat, Janet Yellen. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah indeks saham di Asia bergerak mixed pada awal perdagangan hari ini, Selasa (26/9/2017), seiring dengan berkurangnya kekuatan emas dan yen sebagai aset safe haven.

Indeks Topix Jepang bergerak ke posisi lebih rendah pada pukul 9.21 pagi waktu Tokyo (pukul 7.21 WIB). Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,1% dan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,3%.

Pada saat yang sama, pergerakan yen beringsut ke posisi 111,66 setelah menguat 0,2% pada perdagangan Senin (25/9). Sementara itu, harga emas turun 0,1% ke US$1.308,96 per ounce setelah melonjak 1% kemarin.

Dilansir Bloomberg, pasar finansial pagi ini menunjukkan tanda-tanda stabil setelah sempat terdampak aksi terbaru Korea Utara yang mendongkrak daya tarik aset safe haven. Menteri Luar Negeri Korea Utara kemarin menyatakan bahwa negara terisolasi tersebut dapat menembak jatuh pesawat tempur AS.

Menteri Ri Yong Ho menggambarkan komentar terbaru Presiden Donald Trump sama dengan sebuah pernyataan perang. Namun pihak Gedung Putih membantah telah mendeklarasikan perang terhadap Pyongyang.

“Ini memang menunjukkan eskalasi retorika yang signifikan serta menimbulkan risiko salah langkah yang taktis,” kata Tapas Strickland, seorang ekonom di National Australia Bank Ltd., seperti dikutip dari Bloomberg.

Fokus pasar saat ini pun kembali pada komentar pembuat kebijakan bank sentral serta perusahaan pengembang properti China seputar isu reli sahamnya.

Pidato oleh Gubernur The Federal Reserve Janet Yellen pada hari ini waktu setempat akan dinantikan saat sejumlah pembuat kebijakan terus tidak sepakat mengenai apakah akan menaikkan suku bunga AS lagi tahun ini.

Ketua Fed wilayah New York William Dudley berpendapat bahwa bank sentral AS tersebut harus tetap berpegang pada strategi pengetatan kebijakan moneter secara bertahap, pandangan yang senada dengan Yellen.

Di sisi lain, Ketua Fed wilayah Chicago Charles Evans mendesak sikap yang lebih hati-hati seperti halnya yang dilakukan Ketua Fed wilayah Minneapolis Neel Kashkari. Prediksi penaikan suku bunga AS pada bulan Desember saat ini kira-kira mencapai 60%. Sepanjang tahun ini, suku bunga AS telah dinaikkan sebanyak dua kali dalam pertemuan kebijakan The Fed pada Maret dan Juni.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup