IHSG Gagal Pertahankan Rebound di Akhir Sesi I

Indeks harga saham gabungan (IHSG) gagal mempertahankan reboundnya dan berbalik ke zona merah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (14/9/2017).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 September 2017  |  12:37 WIB
IHSG Gagal Pertahankan Rebound di Akhir Sesi I
Pengunjung berdiri di dekat monitor pergerakan IHSG, di gedung Bursa efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/9). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) gagal mempertahankan reboundnya, dan berbalik ke zona merah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (14/9/2017).

IHSG turun 0,05% atau 2,77 poin ke level 5.842,96 di akhir sesi I, setelah dibuka dengan kenaikan 0,07% atau 3,99 poin di level 5.849,72.

Menutup perdagangan Rabu (13/9) dengan pelemahan, IHSG mampu dibuka dengan rebound pagi tadi dan mempertahankan pergerakan positifnya hingga menjelang akhir sesi I sebelum kemudian berbalik turun. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di kisaran 5.841,77 - 5.867,21.

Sebanyak 141 saham menguat, 149 saham melemah, dan 269 saham stagnan dari 559 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Enam dari sembilan indeks sektoral IHSG bergerak negatif dengan tekanan utama sektor industri dasar (-0,79%) dan properti (-0,61%). Adapun tiga sektor lainnya bergerak positif dipimpin sektor konsumer yang menguat 0,59%.

Sektor tambang yang pagi tadi memimpin penguatan sektor dengan kenaikan lebih dari satu persen, terpantau memerah dan turun 0,30% di akhir sesi I. Performa sektor tambang kembali turun setelah kemarin terbebani rencana pemerintah mengatur harga batu bara untuk kepentingan ketenagalistrikan.

Tim riset Sinarmas Sekuritas memprediksi IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah di kisaran 5.815-5.871 pada perdagangan hari ini, menjelang rilis sejumlah data ekonomi China.

Dari dalam negeri, terdapat wacana bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu turut campur dalam menurunkan suku bunga kredit perbankan yang dapat memberi dampak negatif bagi sektor perbankan.

Selain itu, terdapat wacana bahwa pemerintah akan membatasi supply material konstruksi dari anak usaha kepada induk perusahaan kontraktor dengan tujuan untuk meningkatkan partisipasi dari pihak swasta.

“Hal ini akan memberikan dampak negatif bagi sektor konstruksi,” paparnya dalam riset hari ini.

Sementara itu, perekonomian China secara tidak terduga melambat lebih jauh bulan lalu, setelah performa yang kurang bergairah pada Juli. Data produksi industri, penjualan ritel, dan investasi aset tetap mengalami laju kenaikan terlamban.

Seperti dilansir Bloomberg, produksi industri naik 6% pada Agustus dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

Angka ini lebih kecil dari prediksi rata-rata para ekonom sebesar 6,6%% dan pencapaian pada Juli sebesar 6,4%. Tak hanya itu, angka produksi industri bulan lalu adalah laju kenaikan terlamban tahun ini.

Penjualan ritel naik 10,1% dibandingkan dengan setahun sebelumnya, lebih rendah dari prediksi sebesar 10,5% dan pencapaian pada Juli sebesar 10,4%. Penjualan ritel juga mengalami laju kenaikan terlamban tahun ini.

Adapun investasi aset tetap di daerah perkotaan naik 7,8% sepanjang delapan bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini lebih kecil dari prediksi kenaikan sebesar 8,2% sekaligus terlamban sejak 1999.

Di pasar regional, indeks FTSE Straits Time Singapura siang ini terpantau melemah 0,24%, indeks FTSE Malay KLCI turun 0,07%, indeks SE Thailand menguat 0,40%, dan indeks PSEi Filipina menanjak 1,25%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, ekonomi china

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top