Martina Berto Target Tumbuh 9,5%

PT Martina Berto Tbk. yang bergerak di bidang industri kosmetik menargetkan penjualan bersih pada tahun ini sebesar Rp750 miliar.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 27 Mei 2017  |  00:17 WIB
Martina Berto Target Tumbuh 9,5%
Uang rupiah. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA - PT Martina Berto Tbk. yang bergerak di bidang industri kosmetik menargetkan penjualan bersih pada tahun ini sebesar Rp750 miliar.

Dengan target tersebut, maka pertumbuhan yang bakal diperoleh pada tahun ini sebesar 9,5% dibandingkan Rp685,4 miliar realisasi pada tahun lalu. Sedangkan dari sisi laba sebelum pajak, pada tahun ini emiten berkode saham diproyeksikan menangguk Rp16 miliar, atau naik 35% dibandingkan Rp11,8 miliar realisasi tahun lalu.

Direktur Utama Martina Berto Bryan David Emil mengungkapkan target tersebut terbilang cukup moderat. “Optimis moderat, itu target kami tahun ini,” ungkapnya, Jumat (26/5/2017).

Proyeksi tersebut seiring melemahnya pertumbuhan pasar FMCG (fast moving consumer goods). Bryan mengutarakan berdasarkan riset, pertumbuhan FMCG hanya 3,9% pada kuartal pertama tahun ini, sedangkan produk domestik yang masuk di dalamnya cenderung melemah.

Sejauh ini, pertumbuhan secara nasional pun masih belum menggeliat. Terutama, katanya, dari sisi konsumsi masyarakat.

“Tingkat pertumbuhan masih dipicu belanja pemerintah, daya beli masyarakat belum terungkit,” tambahnya.

Hal itupun tergambarkan dari realisasi kinerja kuartal pertama dari perusahaan Grup Martha Tilaar itu. Kinerja penjualan MBTO mencapai Rp132,57 miliar pada triwulan I/2017, turun 26,8% dibandingkan Rp181,15 miliar pada periode sama tahun lalu.

Sedangkan laba kotor tercatat sebesar Rp66,42 miliar pada kuartal pertama tahun ini, turun 28,9% dibandingkan Rp93,45 miliar pada periode sama 2016. Alhasil, MBTO baru mencatatkan laba bersih sebesar Rp830 juta pada kuartal pertama tahun ini.

Beruntungnya, perusahaan telah mengantisipasi penurunan pasar sejak tahun lalu. MBTO mengencangkan program efisiensi dari sisi beban dan ongkos produksi.

Pada tahun lalu, realisasi kinerja penjualan mencapai Rp685,44 miliar, turun 1,3% dibandingkan Rp694,78 miliar pada 2015. Lewat program efisiensi, meski penjualan menurun, laba bersih perusahaan terdongkrak dari rugi bersih pada 2015, menjadi laba Rp8,81 miliar.

Bryan menjelaskan program efisiensi pada tahun ini kembali digalakan. Strategi utama yakni pengelolaan persediaan bahan baku.

“Kami melakukan fix production, sehingga membeli bahan baku sudah di awal, sehingga mampu mendapatkan diskon atau potongan harga yang signifikan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
market

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top