Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Cermati Berita Berikut Ini, Senin (08/05)

Perdagangan hari ini, Senin (08/05) pasar mencermati sejumlah berita baik di dalam maupun dalan negeri yang diprediksi akan menjadi sentimen penggerak IHSG ataupun rupiah.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 08 Mei 2017  |  10:09 WIB
Foto udara pembangunan jalan tol Medan-Binjai, Sumatra Utara, Sabtu (6/5). - Antara/Irsan Mulyadi
Foto udara pembangunan jalan tol Medan-Binjai, Sumatra Utara, Sabtu (6/5). - Antara/Irsan Mulyadi

Bisnis.com, JAKARTA - Perdagangan hari ini, Senin (08/05) pasar mencermati sejumlah berita baik di dalam maupun dalan negeri yang diprediksi akan menjadi sentimen penggerak IHSG ataupun rupiah.

Berdasarkan riset Oso Securities,berita domestik seperti PDB nasional yang tumbuh 5,01% menjadi sorotan pasar hari ini.

Berikut berita lainnya yang menjadi sorotan pasar hari ini

Berita domestik

PDB Kuartal I Tumbuh 5,01%
Produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2017 tumbuh 5,01% year on year (yoy) atau lebih baik dibandingkan kuartal I-2016 yang tumbuh 4,92%. Namun demikian, daya beli masyarakat pada kuartal I-2017 terlihat belum pulih atau masih lemah. Penghasilan masyarakat hanya naik tipis sebesar 0,93% selama kuartal pertama. PDB yang mampu melampaui 5% tertolong oleh ekspor yang tumbuh 8,04% akibat kenaikan ekspor non-migas pada tiga bulan pertama yang mencapai 21,26%. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak juga ikut mendongkrak PDB, sehingga konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tumbuh 8,02%, meski kontribusi terhadap PDB hanya 1,19%. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2017 mestinya lebih tinggi dari 5,01%. Dia menduga, hal itu terjadi karena PDB belum mendapat sokongan yang signifikan dari peningkatan ekspor komoditas perkebunan.

Gairah ekspor menolong laju ekonomi Kuartal I
Ekonomi Indonesia di awal tahun melaju lebih cepat. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tiga bulan pertama tahun ini di atas 5%, atau tepatnya 5,01% year on year (YoY). Angka itu lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2016 yang sebesar 4,92% YoY. Namun jika dilihat kuartal per kuartal, ekonomi Indonesia triwulan I-2017 terhadap triwulan sebelumnya turun 0,34% (q-to-q). Dengan pertumbuhan itu maka perekonomian Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku Rp 3.227,2 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2.377,5 triliun Data BPS juga menunjukkan ekonomi RI di kuartal I-2017 melaju lebih cepat didorong bahan bakar ekspor. Kinerja ekspor tumbuh signifikan 8,04% YoY dibanding kuartal I-2016 yang turun 3,29% YoY. Kenaikan ekspor terutama dari nonmigas sebesar 21,61% YoY. Sedangkan impor tumbuh lebih rendah dibandingkan ekspor yaitu 5,02% YoY.

Berita global

UEA menunda peluncuran reaktor nuklir pertamanya
Uni Emirat Arab pada Jumat (5/5) menunda peluncuran reaktor nuklir pertamanya sampai tahun depan untuk pemeriksaan keamanan lebih lanjut karena regulator belum memberikan izin operasi. Reaktor tersebut, salah satu dari empat yang dibangun di pembangkit Barakah senilai US$ 20 miliar di sebelah barat Abu Dhabi oleh konsorsium yang dipimpin Korea Electric Power Corp. (KEPCO) itu, sebelumnya dijawalkan akan mulai beroperasi tahun ini. Namun, regulator nuklir UEA masih meninjau pengajuan izin operasi yang diserahkan pada Maret 2015, kata Emirates Nuclear Energy Corp. (ENEC), seperti dikutip AFP.

India perketat aturan batas utang bank

India akan memperketat aturan untuk membatasi utang bank bermasalah yang mencapai US$ 150 miliar. Aturan baru yang dirilis, Jumat (5/5) menyebutkan, pemerintah memberi kewenangan kepada Bank Sentral Indiauntuk memulai proses penyelesaian aset-aset bermasalah di perbankan. Kelak, akan dibentuk panel atau otoritas untuk membantu proses penyelesaian aset bermasalah tersebut. Panel itu bersama Reserve Bank of India akan memberi rekomendasi kepada bank mengenai penyelesaian aset yang bermasalah. Langkah ini dimaksudkan untuk mengatasi rekor kredit bermasalah di India yang mencapai INR 9,64 triliun per Desember 2016. Tumpukan kredit macet tersebut menghambat pertumbuhan ekonomi India. Kredit bermasalah ini pula yang membuat perkembangan kredit baru menjadi melambat. Meski begitu, bankir sudah enggan untuk memotong atau melanjutkan kredit bermasalah. Mereka takut akan kena semprit para penegak hukum.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sentimen pasar
Editor : Mia Chitra Dinisari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top