Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BURSA JEPANG 29 NOVEMBER: Reli Topix Berakhir, Nikkei 225 Ditutup Turun

Reli indeks Topix Jepang berakhir pada perdagangan hari ini, Selasa (29/11/2016), setelah mencatatkan rentetan penguatan terpanjang sejak Juni 2015 pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 November 2016  |  14:56 WIB
BURSA JEPANG 29 NOVEMBER: Reli Topix Berakhir, Nikkei 225 Ditutup Turun
Bursa Jepang. - .Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Reli indeks Topix Jepang berakhir pada perdagangan hari ini, Selasa (29/11/2016), setelah mencatatkan rentetan penguatan terpanjang sejak Juni 2015 pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Indeks Topix hari ini dibuka melemah 0,49% atau 7,20 poin di level 1.462,38 dan ditutup turun 0,07% atau 1,01 poin ke 1.468,57.

Pada saat yang sama, indeks Nikkei 225 turun 0,27% atau 49,85 poin ke level 18.307,04 setelah dibuka dengan pelemahan 0,51% atau 93,26 poin di level 18.263,63.

Sebanyak 78 saham menguat, 137 saham melemah, dan 10 saham stagnan dari 225 saham pada indeks Nikkei.

Saham Fast Retailing Co. Ltd. yang anjlok 2,57% menjadi penekan utama terhadap pelemahan Nikkei pada akhir perdagangan hari ini, diikuti oleh Terumo Corp. yang melorot 1,46%, KDDI Corp. yang turun 0,64%, dan Daikin Industries Ltd. yang melemah 0,89%.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar yen terpantau melemah 0,34% atau 0,38 poin ke 112,32 per dolar AS  pada pukul 14.28 WIB setelah dibuka dengan penguatan tipis 0,01% atau 0,01 poin di posisi 111,93.

Seperti dilansir Bloomberg hari ini, belanja rumah tangga Jepang turun untuk bulan kedelapan berturut-turut, sementara penjualan ritel turun tipis pada Oktober bahkan ketika tingkat pengangguran tetap berada di level terendah dalam dua dekade.

Belanja rumah tangga Jepang pada Oktober turun 0,4%, sedangkan penjualan ritel turun 0,1% dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan lesunya konsumsi domestik.

“Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi telah menurun, namun masih ditopang oleh beberapa faktor khusus. Penguatan yang berkelanjutan pada upah diperlukan untuk mendorong konsumen melonggarkan dompet mereka,” ujar Atsushi Takeda, Ekonom Itochu Corp.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nikkei 225 bursa jepang
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top