Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Selangkah Lagi Felda Akuisisi Eagle High (BWPT) Milik Taipan Peter Sondakh?

Selangkah lagi, Felda Investment Corp. Sdn. Bhd. (FIC), anak usaha Federal Land Development Authority (Felda), segera mengakuisisi PT Eagle High Plantations Tbk. dari Grup Rajawali.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 04 Oktober 2016  |  04:00 WIB
Selangkah Lagi Felda Akuisisi Eagle High (BWPT) Milik Taipan Peter Sondakh?
Peter Sondakh. - Forbes
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Selangkah lagi, Felda Investment Corp. Sdn. Bhd. (FIC), anak usaha Federal Land Development Authority (Felda), segera mengakuisisi PT Eagle High Plantations Tbk. dari Grup Rajawali.

Managing Director Rajawali Corpora Darjoto Setyawan mengatakan akuisisi itu segera diteken dalam waktu dekat. FIC akan mengakuisisi saham emiten bersandi BWPT dari Grup Rajawali milik taipan Peter Sondakh.

"FIC semakin dekat dengan akuisisi Eagle High Plantations," katanya kepada Bisnis.com, Minggu (2/10/2016).

Perusahaan pelat merah Malaysia, Felda Global Ventures Holdings Bhd. berencana mengakuisisi 37% saham BWPT dengan nilai US$680 juta. Badan usaha milik negara (BUMN) Malaysia itu nantinya menyerap 10% saham BWPT, dan sisanya 27% dikempit oleh FIC sebagai anak usaha FGV.

Sempat dikabarkan batal, manajemen Rajawali Corpora membantah pada Juli silam. Meski tidak bersedia menyebutkan batas waktu finalisasi lego saham BWPT, Darjoto menegaskan proses negosiasi masih berlangsung hingga saat ini. "Dalam proses, diusakan secepatnya," kata dia.

Dalam sebuah majalah terbitan Malaysia, The Edge, edisi 3-9 Oktober 2016, disebutkan negosiasi pembelian saham BWPT segera rampung. FIC sekali lagi mengajukan pembelian langsung saham BWPT maupun mengajukan proposal penyerapan convertible bonds yang akan diterbitkan BWPT.

Rencana penyerapan convertible bonds BWPT demi proteksi FIC. Surat utang itu dapat dikonversikan menjadi saham apabila harga BWPT meningkat, dan jika tidak, FIC hanya akan mengempit convertible bonds itu, serta menerima pembayaran bunga.

Hal tersebut juga menjadi bukti bahwa FIC masih ingin mengharapkan discount yang layak dari sekitar 30% harga awal yang dibicarakan pada tahun lalu.

Pada pertengahan Juni tahun lalu, FGV yang 20% sahamnya digenggam Felda, mengumumkan akan membeli 30% saham BWPT senilai US$632 juta secara tunai. Sedangkan, 7% sisanya akan diserap melalui penerbitan 95 juta saham baru dengan nilai US$48 juta, sehingga total valuasi yang diakuisisi mencapai US$680 juta.

Felda menawar 30% discount dari harga penjualan 37% kepemilikan senilai US$476 juta. Perjanjian transaksi dengan Felda ini telah berakhir pada tahun lalu.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Malaysia akhir November 2015, FGV mengungkapkan masa conditional sale and purchase agreement (CSPA) berakhir dan tidak diperpanjang lagi. Saat itu, FGV mengindikasikan rencana investasi ke BWPT bakal dilanjutkan dengan skema yang berbeda.

Transaksi senilai US$680 juta ini sebenarnya ditargetkan rampung pada pertengahan Agustus 2015. Tetapi, jangka waktu CSPA diperpanjang menjadi 31 Oktober 2015 dan kemudian diperpanjang lagi hingga 30 November 2015.

Seiring dengan tertundanya transaksi itu, Rajawali masih menjadi pemegang saham mayoritas BWPT. Kepemilikan saham perusahaan milik taipan Peter Sondakh itu tersebar lewat PT Rajawali Capital International dengan 34,89% dan akun PT Rajawali Capital di Credit Suisse AG SG Branch S/A dengan 30,64%. Jumlah ini belum termasuk 1,29% saham lewat Pegasus CP One dan 1,77% lainnya melalui Matacuna Group Ltd. Adapun 4,98% saham BWPT dikuasai oleh PT BW Investindo dan 26,43% lainnya milik publik.

Pada kesempatan lain, Sekretaris Perusahaan BWPT Rudy Suhendra, mengatakan perseroan dan anak usaha mengantongi pinjaman kredit dari PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) senilai Rp1,54 triliun.

Penerima pinjaman adalah PT Mandiri Kapital Jaya, PT Multikarya Sawit Prima, PT Arrtu Agro Nusantara, PT Arrtu Borneo Perkebunan, dan PT Arrtu Plantation. BWPT bertindak selaku letter of undertaking pada 9 September 2016.

"Tujuannya untuk pembiayaan kembali perkebunan kelapa sawit dan pengembangan usaha perkebunan dan pabrik kelapa sawit entitas anak perusahaan," kata dia.

Pinjaman tersebut memiliki jangka waktu 66 bulan dan 120 bulan dari tanggal perjanjian. Transaksi tersebut dikecualikan dari transaksi material.

Hingga paruh pertama tahun ini, BWPT mengantongi pendapatan senilai Rp1,1 triliun atau lebih rendah 26% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,49 triliun. BWPT harus menderita rugi bersih Rp206,77 miliar dari sebelumnya laba Rp12,19 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bwpt peter sondakh
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top