Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MATA UANG ASEAN: Minyak Mentah Meluncur Hampir 3%, Ringgit Paling Sensitif

Nilai tukar ringgit terpantau melemah 0,36% ke posisi 4,1405 per dolar AS pada pukul 09.47 WIB, setelah dibuka dengan pelemahan 0,24% di level 4,1355.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 September 2016  |  10:20 WIB
MATA UANG ASEAN: Minyak Mentah Meluncur Hampir 3%, Ringgit Paling Sensitif
Ilustrasi. - .Antara/Widodo S. Jusuf
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja mata uang ringgit Malaysia dilaporkan mencapai level terlemah dalam tiga bulan terhadap dolar AS, menyusul penurunan tajam harga minyak mentah yang menghempaskan prospek untuk Malaysia yang ekonominya bergantung pada ekspor energi.

Nilai tukar ringgit terpantau melemah 0,36% ke posisi 4,1405 per dolar AS pada pukul 09.47 WIB, setelah dibuka dengan pelemahan 0,24% di level 4,1355.

Seperti dilansir Bloomberg hari ini (Rabu, 28/9/2016), ringgit mengalami pelemahan terbesar di antara mata uang pasar negara berkembang (emerging markets) setelah harga minyak mentah meluncur hampir 3% pada perdagangan kemarin di tengah meredupnya kesepakatan pembatasan produksi dalam pertemuan para menteri negara-negara OPEC hari ini.

“Ringgit melemah akibat anjloknya harga minyak mentah,” ujar Khoon Goh, Kepala riset regional di Australia & New Zealand Banking Group Ltd., Singapura.

Harga minyak WTI kontrak November kemarin ditutup drop 2,74% atau 1,26 poin ke US$44,67, sedangkan patokan Eropa minyak Brent untuk kontrak November berakhir anjlok hampir 3% ke US$45,97 per barel.

Sementara itu pada pk 10.05 WIB, baht Thailand (-0,08), dolar Singapura (-0,07%), rupiah (+0,23%), peso Filipina (+0,17%).  

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah ringgit
Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top