Bisnis.com, JAKARTA— Samuel Sekuritas memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (26/9/2016) berpotensi melemah terseret bursa global.
Riset Samuel Sekuritas memaparkan bursa AS ditutup melemah pada perdagangan terakhirnya seiring penurunan harga minyak menyusul pernyataan Arab Saudi bahwa perjanjian pembatasan produksi minyak mungkin tidak akan tercapai pada pertemuan di Algeria hari ini.
Sementara itu, angka PMI flash AS dan PMI zona Euro tercatat di bawah ekspektasi. Bursa Eropa ditutup melemah juga.
Sementara, IHSG ditutup relatif flat atau naik 0,2% pada jumat lalu dengan foreign net buy tercatat Rp279 miliar di pasar reguler. Pencapaian hasil tax amnesty yang relatif baik menjadi sentimen positif.
Melihat penurunan bursa global termasuk sejumlah bursa di Asia dan Australia pagi ini, serta turunnya EIDO pada jumat lalu, IHSG berpotensi ikut melemah hari ini,” katanya dalam riset.
Adapun, sejumlah perkembangan yang bisa dicermati di minggu ini antara lain data ekonomi AS termasuk estimasi GDP dan klaim pengangguran pada hari kamis nanti serta debat capres AS. Di dalam negeri, pencapaian tax amnesty masih bisa menjadi sentimen positif, dimana banyak pengusaha dikabarkan akan ikut program ini di minggu ini.
Sementara itu, perkiraan GDP kuartal III mulai banyak diberitakan dan pemerintah memperkirakan di kisaran 5% – 5,1%, relatif masih sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar.
Highlights
- KAEF agresif utilisasi aset
- WSKT makin agresif di proyek jalan tol
- ADHI tarik plafon pinjaman 75%
- TLKM & SMGR : Kerja-sama e-learning untuk mengembangkan SDM
- PGAS : Saka Energi temukan cadangan minyak baru
- TLKM : Telkomsel gaet Oppo untuk dongkrak pelanggan
- Utilities : Utang luar negeri ditambah US$6,5 miliar
- Plantation : Bauran biodiesl akan diperluas
- Konsumsi : Pertumbuhan 3Q16 diprediksi melambat
- Plantation : Harga cpo diprediksi menguat
- SMGR : Semen Padang menggandeng Sucofindo untuk menggenjot produktivitas dan distribusi semen
- Telekomunikasi : 2020, transaksi keuangan digital diprediksi US$ 130 miliar