Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Holding BUMN Farmasi, KAEF & INAF Batal Merger

Pemerintah memastikan peleburan atau merger perusahaan pelat merah sektor farmasi ke dalam sebuah holding batal dan memilih untuk sinergi antar badan usaha milik negara (BUMN).
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 08 September 2015  |  02:15 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah memastikan peleburan atau merger perusahaan pelat merah sektor farmasi ke dalam sebuah holding batal dan memilih untuk sinergi antar badan usaha milik negara (BUMN).

Kepastian itu disebutkan oleh Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Muhammad Zamkhani saat berbincang dengan Bisnis.com akhir pekan lalu, Jumat (4/9/2015).

Dia mengatakan rencana holding BUMN farmasi tidak akan terealisasi dalam waktu dekat. "BUMN farmasi tidak akan holding tahun ini, kami dorong untuk sinergi," ungkapnya.

Sejak tahun lalu, dua emiten farmasi pelat merah, PT Kimia Farma (Persero) Tbk., dan PT Indofarma (Persero) Tbk., dipersiapkan untuk dilebur ke dalam sebuah holding.

Bahkan, rencana penggabungan dua emiten farmasi itu telah dikaji oleh PT Mandiri Sekuritas. Hasilnya, pemerintah memiliki sejumlah opsi, mulai dari imbreng saham, rights issue, hingga tukar guling saham.

Akhir tahun lalu, Menter BUMN Rini Mariani Soemarno menuturkan rencana merger kedua emiten farmasi pelat merah itu menjadi prioritas pemerintah pada 2015. Sejatinya, wacana merger telah digulirkan sejak 2005 silam.

Rencananya, Kimia Farma akan menjadi holding bagi emiten farmasi. Selain Indofarma, emiten farmasi pelat merah lainnya adalah PT Phapros Tbk. dan PT Biofarma.

Zamkhani menuturkan pemerintah berkonsentrasi untuk pengembangan industri bahan baku obat guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Pelemahan nilai tukar rupiah dipastikan akan menekan kinerja emiten farmasi. Pasalnya, hampir 90% bahan baku farmasi masih dipasok secara impor.

"Kami dorong BUMN farmasi untuk sinergi pembuatan bahan baku obat stubstitusi impor," katanya.

Pada saat yang sama, pemerintah juga memastikan dua emiten farmasi milik negara tidak akan melakukan pembelian kembali saham (buyback).

Berdasarkan data Bloomberg, kapitalisasi pasar INAF telah terkoreksi 61,73% menjadi Rp421 miliar dari akhir tahun lalu Rp1,1 triliun. Sedangkan, market capitalization KAEF melorot 52,56% menjadi Rp3,86 triliun dari Rp8,13 triliun.

Pada perdagangan saham kemarin, KAEF terkoreksi 1,42% ke level Rp695 per lembar. Sedangkan, saham INAF terkoreksi 4,23% ke level Rp136 dari penutupan sehari sebelumnya Rp142 per lembar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bumn farmasi
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top