Phapros Segera IPO

PT Phapros, anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), segera melakukan initial public offering (IPO) agar mampu menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Choirul Anam | 17 Maret 2015 18:19 WIB

Bisnis.com, MALANG—PT Phapros, anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), segera melakukan initial public offering (IPO) agar mampu menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro mengatakan transformasi PT RNI (Persero) merupakan hal yang mutlak di era MEA 2015, mengingat RNI merupakan suatu konglomerasi bagi banyak entitas bisnis seperti gula, sawit, teh, kondom, farmasi, perdagangan, dan lainnya.

“Selain itu, melakukan IPO juga merupakan langkah strategis yang harus dilakukan, tidak hanya bagi RNI tetapi juga bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya,” kata Ismed Hasan Putro dalam rilis yang diterima Bisnis, Selasa (17/3/2015).

Pernyataan itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam Forum Diskusi Manajemen dengan tema Transformasi Korporat Menghadapi MEA, di PPM Manajemen, Jakarta, (17/3).

Turut hadir sebagai pembicara  CEO PT Kamadjaja Logistics Ivan Kamadjaja dan Direktur JNE H.M. Johari Zein.

Ismed menambahkan, BUMN harus didorong untuk melakukan IPO agar mampu menghadapi persaingan di era MEA 2015.

Pasalnya, melalui IPO BUMN akan lebih akuntabel dalam pengelolaan keuangan.

Selain itu, manjemen akan lebih hati-hati dalam menjalankan perusahaan karena tidak lagi hanya bertanggung jawab kepada pemerintah tetapi juga kepada publik. Diharapkan tata kelola BUMN yang lebih baik dapat terwujud dengan IPO.

 “IPO menuntut BUMN melakukan pelaporan keuangan kepada publik secara berkala,” ujarnya.

Pengawasan publik akan lebih ketat sehingga tata kelolanya menjadi lebih terbuka sehingga direksi dan jajarannya akan lebih profesional karena bertanggung jawab kepada pemegang saham publik diluar pemerintah.

Dengan IPO,  maka sedikit demi sedikit dapat mengikis politisasi yang selama ini kental diisukan ada di tubuh BUMN.

Setelah IPO intervensi apapun yang berpotensi merugikan perusahaan efeknya akan langsung terasa di lantai bursa. Maka manajemen akan lebih selektif dalam mengelola perusahaan.

Selama ini BUMN kerap dituntut terus melakukan transformasi, namun ternyata transformasi internal tidak cukup. Bagi entitas bisnis seperti BUMN, transformasi politik juga vital karena terkait regulasi.

“Inovasi BUMN terkadang benturannya bukan dengan internal tetapi dengan situasi politik. Jika BUMN tidak bersih dari kepentingan politik bagaimana bisa fokus?” katanya.

Namun demikian, Ismed berpendapat, tidak harus seluruh BUMN di dorong untuk IPO, khusus BUMN yang bergerak dalam sektor pelayanan publik seperti PT KAI, PLN, Sang Hyang Seri tidak perlu IPO. Sedangkan, BUMN perkebunan seperti PTPN dan RNI harus IPO.

Tag : ipo, pt phapros tbk
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top