Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RI, Malaysia, Thailand, Gagal Dongkrak Harga Karet Dunia

Upaya untuk mengerek harga karet dunia rupanya belum membuahkan hasil. Koalisi 3 negara produsen utama karet duniaThailand, Indonesia, dan Malaysiadinilai tak berhasil membendung volume pasokan karet global.

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya untuk mengerek harga karet dunia rupanya belum membuahkan hasil. Koalisi 3 negara produsen utama karet dunia—Thailand, Indonesia, dan Malaysia—dinilai tak berhasil membendung volume pasokan karet global.

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Aziz Pane menilai kerja sama 3 negara dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) itu tak sepenuhnya berhasil.

“Memang ada kesepakatan tapi ini kan kalau swasta saja yang sepakat maka pengamanan dari kesepakatan nggak bisa dijamin, yang [kesepakatan] kemarin itu separuh gagal,” katanya.

Sebagai catatan, pada akhir 2012 ketiga negara bersepakat mengurangi jumlah produksi hingga 300.000 ton pada periode Oktober 2012—Maret 2013. Hal ini bertujuan mengurangi pasokan global karet yang diharapkan bisa membantu mengerek harga karet.

Pada kenyataannya, hal itu tidaklah mudah. Aziz menilai, implementasi kebijakan tak efektif. Data dari Rubber Asia menunjukkan hanya Thailand yang akhirnya mengurangi produksi karetnya sebesar 10%.

Di sisi lain, Indonesia dan Malaysia malah membukukan kenaikan produksi karet masing-masing 2,6% dan 5,6% pada selama rentang waktu yang disepakati tersebut.

Banyak yang menilai, angka 300.000 ton itu pun sebenarnya tak terlampau signifikan untuk mempengaruhi sentimen pasar. Angka itu hanya mewakili sekitar 5% dari produksi karet secara global.

Bahkan, realisasi pengurangan produksi karet yang dicapai Thailand volumenya hanya 103.000 atau sekitar 1,7% dari produksi global.

Aziz menekankan kesepakatan ini seharusnya berada di bawah naungan Asean dengan sanksi yang lebih tegas. Dengan begitu, implementasi kesepakatan bisa terlaksana dengan lebih optimal. Terlebih ITRC menaungi beberapa negara di Asia Tenggara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Yusran Yunus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper