November, Rupiah Dan Bath Mata Uang Terburuk di Asia

Rupiah Indonesia dan baht Thailand diklaim sebagai mata uang Asia dengan performa terburuk sepanjang November akibat tekanan defisit transaksi berjalan dan ketegangan politik di Asia Tenggara yang memantik gelombang eksodus modal.
Ringkang Gumiwang
Ringkang Gumiwang - Bisnis.com 01 Desember 2013  |  20:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah Indonesia dan baht Thailand diklaim sebagai mata uang Asia dengan performa terburuk sepanjang November akibat tekanan defisit transaksi berjalan dan ketegangan politik di Asia Tenggara yang memantik gelombang eksodus modal.

Berdasarkan data yang dilansir Bloomberg dan JPMorgan Chase & Co akhir pekan lalu, indeks Asia Dolar anjlok 0,4% pada November, dengan rupiah menorehkan pelemahan terburuk dari 24 mata uang negara berkembang utama.

Sementara itu, baht mencetak bulan terburuknya sejak Mei setelah Bank of Thailand secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan pekan lalu di tengah protes anti-pemerintah yang menciderai sentimen investor.

JPMorgan mencatat gejolak politik di Negeri Gajah Putih mengakibatkan para investor asing mencabut dana senilai US$2,8 miliar dari bursa saham Thailand, Indonesia, dan Taiwan sepanjang bulan lalu.

“Penurunan [sepanjang November] bukan disebabkan oleh tren outflow saja seperti yang terjadi pada Juni, tapi lebih karena isu kepercayaan [investor],” jelas Gundy Cahyadi, ekonom DBS Group Holdings Ltd ketika menjelaskan depresiasi rupiah.

Menurutnya, selama outlook perekonomian masih buram, para investor akan terus ragu untuk kembali menanam modal di kawasan Asia.

Dari laporan berbagai bank lokal Indonesia yang dikumpulkan Bloomberg, nilai tukar rupiah tergelincir 5,8% bulan lalu menjadi 11.963 per dolar AS. Rupiah bahkan melemah di atas 12.000 pada 28 November, untuk pertama kalinya sejak Maret 2009.

Hal serupa juga dialami oleh baht Thailand, yang terdepresiasi 3% menjadi 32,090. Sementara itu, ringgit Malaysia anjlok 2,1% menjadi 3,2240, dan rupee India melemah 1,5% menjadi 62,45.

Defisit transaksi berjalan Indonesia setara 3,8% total produk domestik bruto (PDB) pada kuartal lalu. Bank Indonesia menilai level 0,25-2,5% sebagai zona nyaman bagi defisit transaksi berjalan. Penjualan utang dolar domestik untuk pertama kalinya oleh pemerintah hanya mampu menarik kurang dari separuh jumlah yang ditargetkan pada pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dampak pelemahan rupiah, Rupiah

Sumber : Bloomberg

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top