Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obligasi Jerman dan Italia Tertekan Sinyal Stimulus AS

Harga obligasi pemerintah Jerman turun saat tanda-tanda penguatan ekonomi Amerika Serikat kian membuka peluang bank sentral negara itu mengurangi belanja obligasin
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 13 November 2013  |  08:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Harga obligasi pemerintah Jerman turun saat tanda-tanda penguatan ekonomi Amerika Serikat kian membuka peluang bank sentral negara itu mengurangi belanja obligasi, sehingga melemahkan permintaan atas aset berpendapatan tetap.

Imbal hasil dari obligasi bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam kurun hampir tiga pekan setelah Jerman menganggarkan 755 juta euro (US$1,01 miliar) obligasi yang berisiko inflasi.

Produk sekuritas acuan Jerman turun pekan lalu, setelah laporan dari AS, menunjukkan sejumlah perusahaan menambah tenaga kerja bulan lalu di atas perkiraan para analis.

Obligasi Italia dan Spanyol juga melemah. Italia menjual obligasi bertenor satu tahun dengan imbal hasil paling rendah kemarin.

“Amerika Serikat benar-benar memberikan tekanan pada obligasi,” ujar Allan von Mehren, analis pada Danske Bank A/S di Copenhagen sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (13/11/2013).

Menurutnya, pengurangan belanja obligasi AS menjadi pertimbangan.

Laporan soal tenaga kerja pekan lalu telah mengubah permainan secara mutlak. Saya kira kami akan memperoleh imbal hasil obliogasi antara 1,7% sampai 1.9% untuk sementara, ujarnya.

Imbal hasil obligasi Jerman bertenor 10 tahun naik empat basis poin atau 0,04 poiun persen menjadi 1,79% pada pukul 16.28 p.m waktu London atau pukul 22.28 WIB tadi malam.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stimulus stimulus yield obligasi yield obligasi obligasi jatuh tempo obligasi jatuh tempo

Sumber : Bloomberg

Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top