Pelemahan Rupiah Berpotensi Tekan Harga SUN Hari Ini

Kinerja pasar obligasi dalam negeri hari ini, Jumat (29/9/2017) berpotensi melanjutkan pelemahan seiring rupiah yang masih terlihat masih akan melanjutkan tren tertekan di tengah surat utang global yang bergerak bervariasi.
Emanuel B. Caesario | 29 September 2017 09:27 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja pasar obligasi dalam negeri hari ini, Jumat (29/9/2017) berpotensi melanjutkan pelemahan seiring rupiah yang masih terlihat masih akan melanjutkan tren tertekan di tengah surat utang global yang bergerak bervariasi.

Kemarin, Kamis (28/9/2017) rupiah bergerak di kisaran Rp13.426 hingga Rp13.594 dan ditutup melemah 70 pts atau 0,51% terhadap Dollar Amerika di level Rp13.575.

I Made Adi Saputra, analis obligasi MNC Sekuritas, mengatakan bahwa kembali tertekannya rupiah terhadap dollar Amerika menjadi katalis negatif pada perdagangan kemarin jelang pidato presiden Amerika mengenai kebijakan pajaknya.

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan kemarin, kembali mengalami kenaikan di tengah masih berlanjutnya koreksi harga SUN di pasar sekunder.

Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 1 - 13 bps. Imbal hasil SUN tenor pendek (1-4 tahun) naik berkisar antara 2 - 4 bps dengan penurunan harga hingga sebesar 15 bps.

Kemarin, SUN diperdagangkan sebanyak Rp25,79 triliun dari 44 seri, nilai seri acuan sebesar Rp11,20 triliun. Sementara itu obligasi korporasi diperdagangkan senilai Rp1,22 triliun dari 43 seri.

"Adapun secara teknikal, harga SUN masih berada di area overbought mendorong pelaku pasar melakukan aksi ambil untung," katanya dalam riset hariannya, Jumat (29/9/2017).

Made menilai, pada perdagangan hari ini harga SUN terlihat akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan.

Seri-seri yang direkomendasikan Made antara lain FR0069, FR0053, FR0070, FR0071, FR0073, FR0065, FR0068, FR0072, FR0075.

Maximilianus Nico Demus, Kepala Divisi Riset Indomitra Sekuritas, mengatakan bahwa total transaksi kemarin didominasi oleh obligasi berdurasi kurang dari satu tahun, diikuti dengan tenor antara 15 tahun – 20 tahun dan 7 tahun – 10 tahun.

Pasar obligasi kemarin terlihat mengalami penurunan, hampir disemua harga obligasi acuan, meskipun saat setelah makan siang harga obligasi sempat mengalami kenaikkan.

"Para pelaku pasar dan obligasi kemarin masih terlihat aktif, namun masih melihat perkembangan data inflasi pada pekan depan. Sentiment yang lebih mendominasi memang lebih kepada faktor eksternal, seperti rencana reformasi pajak serta optimisnya The Fed untuk menaikkan Fed Rate pada bulan Desember nanti," tulisnya dalam riset harian, Jumat (29/9/2017).

Nico mengatakan, penguatan Dollar tentu akan mendorong Rupiah untuk melemah. Hal ini jugalah yang mendorong pasar obligasi untuk melemah.

Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah di semua obligasi, tidak terkecuali obligasi acuan.

Menurutnya, saat ini imbal hasil obligasi 10 tahun tengah berfokus uji resisten di level 6.55, yang apabila melewati 6.55 keatas berarti fase trend penurunan obligasi dapat berubah.

Begitu pun dengan obligasi 20 uji resisten di level 7.32, yang tidak boleh melewati 7.32 karena akan mengubah trend penurunan. Meskipun, secara angka kemarin sempat tercatat melewati resisten tersebut.

"Mungkin hari ini akan muncul tangan tangan tidak terlihat yang menjaga pasar obligasi untuk tidak turun terlalu dalam, agar dapat menjaga imbal hasil obligasi untuk tetap rendah. Secara teknikal analisa, momentum pelemahan sudah memberikan konfirmasi, hanya tinggal mengukur seberapa dalam

penurunan ini terjadi," katanya.

Tag : sun
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top