Senin, 01 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

PENAIKAN HARGA BBM: Pelaku Bursa Anggap Dapat Kilaukan IHSG

Ismail Fahmi   -   Minggu, 05 Mei 2013, 10:31 WIB

BERITA TERKAIT

BISNIS.COM, JAKARTA--Pada awal Mei, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menembus level tertinggi sepanjang sejarah ke posisi 5.060 poin meski dibayangi gonjang-ganjing Penaikan BBM bersubsidi yang diproyeksikan menaikkan inflasi sehingga memperlambat laju pertumbuhan ekonomi.

Kendati demikian, munculnya rencana Penaikan BBM di dalam negeri itu justru mendorong investor saham cukup aktif mengakumulasi saham-saham perusahaan yang tercatat di BEI. Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi yang semakin mengerucut direspons positif investor pasar modal.

Apalagi, laporan keuangan kuartal pertama emiten domestik yang sudah mulai diumumkan satu persatu menambah "amunisi" bagi investor untuk mengalkulasi kekuatan fundamental emiten untuk kuartal ke depannya.

Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengatakan elemen masyarakat ekonomi di Indonesia seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) maupun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga mengapresiasi positif rencana kenaikan harga BBM karena dapat memperbaiki struktur ekonomi Indonesia.

"Penetapan kenaikan harga BBM harus dilakukan dengan cepat sehingga akan lebih positif dalam jangka pendek dan panjang bagi ekonomi domestik dan juga tentunya pasar modal Indonesia," ujarnya, Minggu (5/5)

Menurutnya,  IHSG BEI akan tetap berfluktuasi namun dengan tren yang akan lebih positif, pengaruh kenaikan BBM juga tidak akan berdampak besar terhadap kinerja keuangan emiten karena mereka (emiten) pasti sudah mengantisipasi hal itu."

Kepala Riset PT MNC Securities, Edwin Sebayang menambahkan pelaku pasar saham sedikit mengabaikan kenaikan BBM bersubsidi, sehingga indeks BEI akan tetap melaju di area positif. Selain itu, pergerakan IHSG BEI juga akan didukung dari aksi korporasi emiten dan laporan kinerja kuartal pertama tahun ini.

Sementara itu, analis PT AmCapital Indonesia, Viviet S Putri mengatakan untuk jangka panjang, kenaikan BBM saat ini masih dianggap dapat memberikan dampak positif, khususnya dalam ekonomi domestik.

"Dampak ke pasar modal memang ada, kemungkinan fluktuasi beberapa saat karena pengaruh inflasi dan efek domino dari kenaikan BBM namun tren masih positif," ujarnya.

Dampak S&P Selain gonjang-ganjing BBM, pasar keuangan Indonesia kembali dilanda sentimen dari laporan lembaga peringkat Standard & Poor's (S&P) yang menurunkan proyeksi (outlook) peringkat utang Indonesia menjadi stabil dari positif.


Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada melihat IHSG BEI masih berpotensi untuk terus bangkit dengan masih adanya dorongan daya beli dari investor domestik terhadap saham-saham di dalam negeri. Dorongan beli juga masih akan mendapat dukungan dari transaksi asing sehingga indeks BEI mampu bertahan di area positif.

Dalam data perdagangan saham BEI sepanjang tahun ini tercatat investor asing mengakumulasi beli bersih saham (nett buy) senilai Rp25,96 miliar per Jumat (3/5) ini.

"Meski, saat ini beredar sentimen dari belum jelasnya rencana kenaikan harga BBM sehingga S&P menurunkan outlook Indonesia, kinerja emiten pada kuartal pertama 2013 diperkirakan masih mampu membuat IHSG di area hijau (positif). Adanya rilis deflasi sebesar 0,1%dan tertibnya demo buruh memberikan rasa nyaman bagi pelaku pasar untuk tetap melakukan transaksi," kata Reza.

Direktur Pengembangan BEI, Friederica Widyasari Dewi menambahkan peningkatan jumlah investor saham di dalam negeri akan dapat menjaga pertumbuhan industri pasar modal Indonesia.

"Kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap investasi sudah semakin akrab, sehingga kondisi itu akan mendorong peningkatan jumlah investor domestik yang tentunya akan menahan sentimen negatif yang ada, baik dari dalam negeri maupun eksteral," ujarnya. (Antara)


Editor : Ismail Fahmi

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.