Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laba Bersih INDF & ICBP Makin Gurih, Begini Prospek Saham hingga Dividen

Brankas duo emiten Grup Salim, yakni INDF dan ICBP kian menebal sejalan dengan perolehan laba yang mengembang. Cermati prospek saham dan dividen tahun ini.
Brankas duo emiten Grup Salim, yakni INDF dan ICBP kian menebal sejalan dengan perolehan laba yang mengembang. Cermati prospek saham dan dividen tahun ini.- Bloomberg/Dimas Ardian
Brankas duo emiten Grup Salim, yakni INDF dan ICBP kian menebal sejalan dengan perolehan laba yang mengembang. Cermati prospek saham dan dividen tahun ini.- Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA – Brankas duo emiten Grup Salim, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) kian menebal, sejalan dengan perolehan laba bersih 2023 yang mengembang.

INDF, contohnya, membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp8,14 triliun sepanjang 2023. Capaian ini tumbuh 28,12% dibandingkan laba 2022, yakni Rp6,35 triliun.

Menyitir laporan keuangan konsolidasian per akhir Desember 2023, kenaikan laba bersih INDF terjadi di tengah pertumbuhan penjualan yang moderat. Pada tahun lalu, penjualan neto perseroan mencapai Rp111,7 triliun atau naik 0,79% secara tahunan.

Sementara itu, ICBP meraih laba bersih Rp6,99 triliun pada 2023. Jika dibandingkan dengan laba 2022, perolehan tersebut melesat 52,39% secara tahunan (year-on-year/YoY). Adapun kinerja penjualan bersih sebesar Rp67,9 triliun atau meningkat 4,80% YoY.

Performa penjualan ICBP pada tahun lalu ditopang oleh produk mi instan yang membukukan Rp50,43 triliun, naik 6,24% secara tahunan. Posisi berikutnya dihuni produk susu atau dairy yang meraup penjualan senilai Rp9,12 triliun atau turun 3,35% YoY.

Selanjutnya, penjualan makanan ringan meningkat 6,95% YoY menjadi Rp4,24 triliun, dan produk penyedap makanan menyumbang Rp3,67 triliun atau naik 9,26% YoY. Sisanya, produk nutrisi makanan khusus berkontribusi Rp1,21 triliun dan minuman Rp1,6 triliun.

Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, mengatakan INDF kembali menunjukkan ketangguhannya dengan meraih kinerja keuangan secara solid pada 2023, meski dihadapkan pada kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.

“Memasuki tahun 2024 ini, kami tetap optimis namun senantiasa berhati-hati dalam menghadapi kondisi ketidakpastian global dan terus berupaya untuk meraih pertumbuhan yang berkelanjutan, serta menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan profitabilitas,” ujarnya.

Terkait dengan ICBP, dia menuturkan bahwa di tengah tantangan global dan lemahnya daya beli masyarakat, perseroan mampu menyesuaikan diri sehingga menorehkan pertumbuhan penjualan dan profitabilitas sepanjang tahun lalu.

Ke depan, lanjutnya, perekonomian Indonesia diyakini tetap tangguh sehingga mendukung rencana ICBP untuk terus menyeimbangkan pertumbuhan penjualandan profitabilitas, sekaligus mempertahankan neraca keuangan yang sehat. 

PROSPEK SAHAM & DIVIDEN

Dari lantai bursa, kinerja saham INDF dan ICBP memiliki performa yang berbeda. Pada Selasa (26/3) hingga pukul 14.00 WIB, saham INDF berada di level Rp6.325 atau turun 1,94%, sedangkan saham ICBP melemah 2,46% menuju Rp10.925.

Terkait dengan hal tersebut, Lead Investment Analyst Stockbit Edi Chandren memperkirakan rilis kinerja 2023 berpotensi memberikan sentimen negatif terhadap saham INDF dan ICBP.

“Sebab, nilai penurunan investasinya signifikan dan dapat muncul kekhawatiran mengenai masih adanya potensi penurunan nilai investasi pada 2024,” ujar Edi dalam riset terbaru.

Dia menuturkan bahwa pada kuartal IV/2023, laba bersih INDF tercatat mencapai Rp1,06 triliun atau terkoreksi 30% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) dan melemah 38% YoY.

Adapun perolehan ini ditekan oleh pencatatan kerugian nilai investasi pada entitas asosiasi sebesar Rp2,43 triliun. Hasil ini utamanya disebabkan oleh penurunan nilai wajar Dufil Prima Foods Plc. (DPFP), entitas asosiasi yang beroperasi di Nigeria, senilai Rp1,81 triliun.

“Kami menduga bahwa penurunan nilai wajar DPFP terkait dengan krisis nilai tukar naira Nigeria yang anjlok 50% terhadap rupiah selama 2023,” pungkasnya.

Di sisi lain, data konsensus Bloomberg, Senin (25/3) menunjukkan 35 analis yang mengulas saham ICBP seluruhnya menyematkan rekomendasi beli. Target saham berada di level Rp13.711,9 dalam 12 bulan ke depan dengan potensi return 22,4% dari harga Rp11.200.

Sementara itu, sebanyak 24 dari 27 analis yang mengulas saham INDF memberikan rekomendasi beli dan sisanya tahan. Para analis memperkirakan target saham terbaik INDF berada pada level Rp8.829, dengan potensi return sebesar 36,9% dari harga Rp6.450.

Terkait dengan dividen, Edi menyebutkan bahwa besaran dividen INDF ke depan tidak terpengaruh oleh penurunan nilai investasi pada entitas asosiasi. Sebab kinerja laba perseroan masih menunjukkan performa yang positif.

Laba usaha INDF pada 2023 tercatat sebesar Rp19,7 triliun atau meningkat 5% YoY. Perolehan tersebut juga mencerminkan 104% dari estimasi dari Stockbit dan 102% estimasi konsensus.

Berdasarkan segmennya, Bogasari menjadi penopang pertumbuhan laba usaha INDF lewat pertumbuhan 11% QoQ dan 24% YoY. Selain itu, segmen terbesar yakni consumer branded products (ICBP) meraih kenaikan laba usaha sebesar 5% secara YoY dan QoQ.

Menurut Edi, dengan capaian kinerja operasional 2023, Stockbit mempertahankan ekspektasi pembayaran dividen tahun buku 2023 dari INDF sebesar Rp2,78 triliun atau Rp316 per saham.

“Mengacu harga saham INDF pada penutupan bursa hari Selasa [25/3] di level Rp6.450 per lembar, estimasi jumlah dividen tersebut mengindikasikan dividend yield sebesar 4,9%,” ujarnya.

____________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper