Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Geliat Entitas BUMI Produksi Batu Bara di Tengah Arus Transisi Energi

Derasnya dorongan transisi energi tidak mengurungkan niat anak usaha Bumi Resources (BUMI), PT Kaltim Prima Coal (KPC) menggenjot produksi batu bara.
Operasional tambang batu bara kelompok usaha PT Bumi Resources Tbk. (BUMI)./bumiresources.com
Operasional tambang batu bara kelompok usaha PT Bumi Resources Tbk. (BUMI)./bumiresources.com

Bisnis.com, SANGATTA —  Derasnya dorongan transisi energi tidak mengurungkan niat anak usaha PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Kaltim Prima Coal (KPC), terus menggenjot produksi batu bara.

Chief Operating Officer PT KPC Hendro Ichwanto meramalkan masa depan perkembangan industri batu bara masih cerah, setidaknya dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Hendro tidak menampik teknologi energi terbarukan sudah mulai berkembang. Meski demikian, menurutnya, perkembangan itu masih cenderung terbatas.

"Sehingga pandangan saya sih dunia masih akan butuh batu bara 20-30 tahun ke depan, sampai nanti kita betul-betul settle [mapan] punya teknologi yang cukup bagus untuk energi terbarukan itu," ujar Hendro saat ditemui di kantornya, kawasan pertambangan KPC, Sangatta, Kutai Timur, Kamis (21/3/2024).

Apalagi, lanjutnya, China masih terus getol membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang diperkirakan berkapasitas hingga 300 gigawatt. Oleh sebab itu, KCP melihatnya sebagai kesempatan.

Menurut Hendro, China memang masih jadi pangsa pasar ekspor terbesar dari KPC. Pada 2022 misalnya, KCP mengekspor hingga 16.410.739 ton batu bara ke China atau sekitar 30,2% dari total produksi sebanyak 54.241.459 ton.

"Sebagai supplier [pemasok] batu bara pasti kita melihat itu [perencanaan pembangunan PLTU di China] sebagai opportunity [kesempatan] untuk pasar kita nanti ke depan, gitu ya. Tapi ya China saat ini itu masih dominan ya, supply kita ke sana. Jadi kita akan selalu ikutin monitor perkembangan di sana," jelasnya.

Oleh sebab itu, KPC menargetkan produksi batu bara mencapai level 53,5 juta ton per tahun hingga 2026. Hendro menjelaskan, angka tersebut sudah disetujui oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) lewat rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2024-2026.

"Tahun ini kita di 53,5 juta ton. Sama [2025 dan 2026 produksinya], flat [datar] 53,5 juta," katanya.

Hendro menuturkan, produksi batu bara KPC untuk kuartal I/2024 diproyeksikan mencapai 14,5 juta ton. Proyeksi produksi kuartal I/2024 itu lebih tinggi dibandingkan kuartal I/2023.

Apalagi, jelas Hendro, masih ada 600 juta ton cadangan batu bara yang bisa ditambang di kawasan konsesi KPC. Bahkan, KPC masih lanjut lakukan eksplorasi dengan salah satunya tujuan untuk cari tambahan cadangan batu bara.

Luas wilayah konsesi KPC sendiri mencapai 90.938 hektar, atau lebih besar dari Singapura (sekitar 73.430 hektar). Kini, perusahaan tambang yang sudah beroperasi sejak 1991 ini sudah mempunyai 10 pit sebagai tempat mengeruk batu bara.

Agar bisa terus menggenjot produksi batu bara, KPC akan buka dua pit baru pada tahun ini. Rencananya, dua pit anyar itu siap dioperasionalkan beberapa bulan lagi.

"Perkiraan kita, target kita, di semester kedua nanti di tahun ini [dioperasionalkan]," ungkap Hendro.

HILIRISASI BATU BARA

Di lain pihak, pemerintah melalui Kementerian ESDM terus mendorong transisi energi di dalam negeri. Komitmen pemerintah itu sudah tercantum dalam peta jalan menuju Net Zero Emission (NZE) alias nol emisi karbon maksimal pada 2060.

Dalam peta jalan itu, Plt. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Suswantono menyatakan seharusnya produksi batu bara dalam negeri alami penurunan pada 2030, seiring meningkatnya bahan baku energi baru terbarukan (EBT) untuk pembangkit listrik.

Oleh sebab itu, salah satu pemanfaatan cadangan batu bara yang masih melimpah di Indonesia dengan hilirisasi. Dia menjelaskan batu bara dapat diolah menjadi berbagai produk turunan, baik sebagai bahan baku industri maupun sumber energi seperti dimethyl rther (DME), methanol, synthetic gas, hidrogen, dan amonia.

Guna mendukung hilirisasi batu bara tersebut, Bambang mengatakan pemerintah menyediakan tiga insentif untuk perusahaan. Pertama, dengan pengurangan tarif royalti batu bara khusus untuk gasifikasi batubara hingga 0%. Kedua, pengaturan harga batu bara khusus untuk meningkatkan nilai tambah (gasifikasi) yang dilaksanakan di mulut tambang.

"Insentif ketiga ialah masa berlaku Izin Usaha Pertambangan batubara yang dikhususkan pada batubara untuk gasifikasi diberikan sesuai dengan umur ekonomis industri gasifikasi batubara," jelas Bambang dalam acara Coaltrans Asia di Badung, Bali, Senin (25/9/2023), dikutip dari siaran pers Kementerian ESDM.

Sejalan dengan ambisi pemerintah, KPC juga berniat memperluas cakupan pasarnya. Tak hanya menjual barang mentah, KPC juga serius ingin melakukan hilirisasi batu bara.

Meski demikian, KPC mengharapkan intensif yang menggiurkan dari pemerintah untuk memperlancar hilirisasi batu bara. Menurut Hendri, yang terpenting intensif itu bisa membuat biaya hilirisasi batu bara efisien dan ekonomis.

Bagaimanapun, lanjutnya, tujuan industri yang mencoba sektor baru yaitu untuk mengincar keuntungan. Dia pun mencontohkan intensif dari sisi pajak.

"Misalnya kan nanti terhadap royalti ya itu ya, royalti, pajak, itu yang diharapkan karena dengan investasi sebesar itu kita juga ingin cepat kembali ya, makanya investor juga akan pikir-pikir nih kalau invest di sana [hilirisasi batu bara] dalam skala besar," kata Hendro.

Apalagi, ungkap Hendro, belum ada studi yang memadai ihwal hilirisasi batu bara di Indonesia. Oleh sebab itu, lanjut Hendro, KPC masih mencari produk turunan batu bara apa yang cocok atau setidaknya bisa diperhitungkan untuk dilakukan hilirisasi.

"Karena teknologi yang tersedia di dunia saat ini yang memungkinkan apa gitu. Ini yang masih terus dicari. Ya enggak cuma pihak swasta sebetulnya, dari pemerintah juga sebetulnya ikut sama-sama mencari nih. Poinnya memang kan kita udah sepakat tuh kita harus lakukan hilirisasi ini gitu. Sepanjang teknologinya ada, tersedia dan memang ekonomis," ujarnya.

Hendro mengungkapkan kini KPC masih belajar dari China untuk kembangkan sektor industri hilirisasi batu bara. Menurutnya, China menjadi yang terdepan dalam industri hilirisasi batu bara.

Bahkan, dia mengklaim timnya sudah pergi ke China untuk melihat secara langsung industri baru tersebut. Oleh sebab itu, Hendro berharap pihaknya tahun depan sudah bisa memulai hilirisasi batu bara.

"Tapi kita lihat, kita kan selalu bersama dengan pihak pemerintah nih untuk sama-sama nih liat yang paling realistis yang seperti apa nanti gambarannya," tutup Hendro.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper