Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hotel Fitra (FITT) Incar Omzet Rp13 Miliar pada 2024, Kaji Rights Issue

PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) menetapkan target pertumbuhan pendapatan 18% menjadi Rp13 miliar pada 2024.
PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) menetapkan target pertumbuhan pendapatan 18% menjadi Rp13 miliar pada 2024.
PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) menetapkan target pertumbuhan pendapatan 18% menjadi Rp13 miliar pada 2024.

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten jasa pengelola hotel dan pariwisata, PT Hotel Fitra International Tbk. (FITT) menetapkan target pertumbuhan pendapatan 18% menjadi Rp13 miliar pada 2024.

Direktur Utama Hotel Fitra International Joni Rizal mengatakan pada 2023, FITT mencetak pendapatan Rp11,83 miliar, tumbuh 12,66% dibandingkan dengan pendapatan tahun 2022 senilai Rp10,50 miliar. Pendapatan tahun lalu juga mencapai 7,6% di atas target yang ditetapkan sebesar Rp11 miliar.

"Perseroan menetapkan target pendapatan tahun ini bisa mencapai Rp 13 miliar atau meningkat 18% dari target yang ditetapkan di tahun 2023 sebesar Rp 11 miliar," papar Joni dalam Public Expose online, usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPST-LB) Jumat (15/3/2024).

Menurut Joni, perseroan optimistis fundamental bisnis perusahaan yang semakin pulih dan meningkat seiring dengan tren positif yang diperoleh di tahun 2023. Prospek pertumbuhan sektor pariwisata nasional pasca pandemi Covid-19 juga semakin terlihat.

FITT berhasil melewati masa-masa sulit dalam beberapa tahun terakhir dan saat ini sudah memasuki masa pemulihan kinerja. Perseroan akan terus melangkah dan optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Tahun 2024, manajemen FITT memprediksi sektor pariwisata akan terus bergerak cepat menuju level prapandemi sehingga menopang sektor pendukungnya. Seiring dengan pertumbuhan industri pariwisata nasional, pertumbuhan kunjungan wisata ke Jawa Barat (Jabar) juga naik.

Data Disparbud Jawa Barat yang mencatat kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) di 2023 (Januari-September) mencapai 52.672.603 (52,67 juta)orang, naik dari 2022. Sementara itu, secara nasional Kemenparekraf memprediksi wisatawan nusantara bisa mencapai 1,2 miliar-1,4 miliar orang pada 2023.

Direktur Keuangan FITT Sukino menyampaikan dari sisi bottom line perseroan masih membukukan rugi bersih Rp7,35 miliar pada 2023 dan pada 2022 rugi bersih mencapai Rp5,99 miliar. Meski demikian, FITT telah mampu membukukan laba kotor yang meningkat 5,6% menjadi Rp 4,18 miliar dari sebelumnya laba kotor Rp3,96 miliar.

Aset FITT pada 2023 juga mencapai Rp 57,81 miliar, dengan total liabilitas Rp29,65 miliar dan ekuitas Rp 28,16 miliar. Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) masih di level yang relatif aman yakni 1,05 kali.

Umroh Park dan Rights Issue

FITT juga berencana mengembangkan wisata religi Umroh Park di Majalengka dengan nilai investasi Rp50 miliar. Pada 14 Desember 2023, FITT melalui anak usahanya yang fokus pada penyelenggara haji dan umroh, PT Fitra Amanah Wisata, sudah bekerja sama dengan Pemkab Majalengka.

Kedua pihak meneken perjanjian kerja sama pemanfaatan lahan untuk membangun kawasan religi terpadu. Lahan seluas 9,3 hektare milik Pemkab Majalengka akan dimanfaatkan Fitra Amanah Wisata untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata religi seluas 4 hektare Kertajati Umroh Park Majalengka.

Tomi Tris, Direktur FITT sekaligus Direktur PT Fitra Amanah Wisata, mengatakan kawasan itu dibangun berikut sarana dan prasarana penunjangnya di atas tanah milik Pemkab Majalengka dengan jangka waktu maksimal 24 bulan sejak keluar perizinan. Nilai investasi proyek ini sebesar Rp 50 miliar.

“Kawasan wisata religi ini akan menjadi satu-satunya dan terbesar di wilayah Jabar, khususnya di Majalengka. Proyek ini sangat prospektif sejalan dengan
mulai beroperasinya Bandara Internasional Kertajati, khususnya untuk mengangkut jamaah haji dan umroh,” kata Tomi.

Untuk pendanaan, FITT melihat peluang dari berbagai lini mulai dari internal maupun eksternal. Adapun, salah satu alternatif pendanaan eksternal ialah penambahan modal dengan memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. (Fasya Kalak Muhammad)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Redaksi
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper