Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ramayana (RALS) Bidik Kenaikan Penjualan 5 Persen pada 2023

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) membidik pertumbuhan penjualan kotor di kisaran 3—5 persen pada tahun ini meski saat momen ramadan lalu penjualan turun.
Gerai Ramayana Prime milik PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) di Cibubur. - Bisnis - Novita Sari Simamora
Gerai Ramayana Prime milik PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) di Cibubur. - Bisnis - Novita Sari Simamora

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten ritel department store PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) membidik pertumbuhan penjualan kotor di kisaran 3—5 persen pada tahun ini, meskipun penjualan selama momentum Ramadan dan Lebaran lebih rendah daripada tahun sebelumnya dan belum kembali ke level sebelum pandemi.

Sekretaris Perusahaan Ramayana Setyadi Surya mengemukakan 3 persen merupakan target konservatif dan 5 persen adalah target maksimal. Pada kuartal I/2023, penjualan kotor RALS tumbuh 3,6 persen secara tahunan dari Rp957,16 miliar pada kuartal I/2022 menjadi Rp991,31 miliar pada tiga bulan pertama 2023.

Namun, pendapatan bersih mengalami penurunan 2,8 persen dari Rp600,53 miliar menjadi Rp583,75 miliar.

Target ini sendiri dibidik setelah RALS membukukan penjualan kotor sebesar Rp4,95 triliun pada 2022, tumbuh 18,6 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp4,17 triliun.

“Dengan demikian pada 2023 kami menargetkan penjualan kotor mencapai Rp5,2 triliun pada 2023,” kata Suryadi.

Suryadi juga memperkirakan bahwa momentum Pemilihan Umum 2024 tidak akan berdampak signifikan pada kinerja perseroan. Hal ini setidaknya terlihat dari data historis pada pesta demokrasi pada tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Direktur Ramayana Lestari Sentosa Andreas Lesmana melaporkan bahwa penjualan pada Maret—April 2023 atau momentum Ramadan dan Lebaran 2023 turun sebesar 1 persen dibandingkan dengan momentum yang sama tahun sebelumnya. Kinerja musim Lebaran tahun ini juga 40 persen lebih rendah daripada sebelum pandemi.

Sebagai peritel dengan target pasar segmen menengah ke bawah, Andreas mengatakan 2023 menjadi tahun yang tetap menantang. Dia menyebutkan Ramayana masih cukup terdampak oleh tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran yang tinggi setelah pandemi.

“Kami masih melihat keadaan pasar. Saat ini di segmen kami belum membaik di mana pengangguran masih banyak dan PHK di industri padat karya masih terjadi seperti di tekstil dan alas kaki. Hal ini akan berdampak pada Ramayana,” papar Andreas.

Antisipasi terhadap kondisi pasar 2023 juga terlihat dari strategi RALS untuk menahan laju ekspansi toko. Ramayana belum berencana membuka gerai baru dan akan fokus untuk membuka kembali toko-toko yang sempat tutup selama pandemi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper