Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Direktur Pertamina Pamer Laba saat Perusahaan Minyak Lain Rugi

Pertamina cukup resilient pada 2020, saat banyak perusahaan minyak negara lain mengalami kerugian.
Gedung Pertamina./Istimewa
Gedung Pertamina./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) menjadi satu dari segelintir perusahaan minyak negara (national oil company/NOC) yang membukukan laba pada tahun pertama pandemi. Mayoritas perusahaan minyak tercatat menelan kerugian jumbo pada 2020.

Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengatakan 2020 menjadi tahun yang sangat menantang bagi industri minyak. Dia mengatakan terdapat tiga tantangan yang harus dimitigasi perusahaan kala itu.

Harga minyak dunia menyentuh level terendah dalam dua dekade, seiring dengan kekhawatiran turunnya permintaan akibat Covid-19. Emma mengatakan harga minyak mentah sempat berada di bawah US$20 per barel pada awal pandemi.

Tekanan lain datang dari nilai tukar rupiah yang terdepresiasi dan menyentuh level Rp16.000 per dolar AS. Pada tahun tersebut, Pertamina mendapat persetujuan untuk mengimpor 52,6 juta barel minyak mentah. Selain itu, volume permintaan di Indonesia tercatat turun mendekati 60 persen.

Namun Emma berpandangan bahwa Pertamina berhasil muncul sebagai perusahaan yang cukup tahan banting. Hal ini terlihat dari performa bottom line perusahaan yang masih membukukan laba bersih sebesar US$1,05 juta.

“Saya kira Pertamina cukup resilient tahun tersebut. Banyak perusahaan minyak negara, termasuk perusahaan internasional, mengalami kerugian. Namun Pertamina membukukan laba bersih sekitar US$1 juta. Ini bukan hal yang mudah untuk dimitigasi karena kita menghadapi triple shock,” katanya dalam CEO Networking, Kamis (24/11/2022).

Sebagai perbandingan, perusahaan minyak milik pemerintah Malaysia, Petronas, membukukan rugi bersih sebesar 23,85 miliar ringgit Malaysia, berbalik dari laba bersih 33,02 miliar ringgit Malaysia pada 2019.

Kerugian juga dibukukan oleh perusahaan minyak Inggris, BP Plc. BP melaporkan rugi bersih pada 2020 mencapai US$20,30 miliar dari laba sebesar US$4,02 miliar pada 2019.

“Kondisi ini membuat kami menyadari bahwa kami perlu mengantisipasi [hal serupa] dan bergerak lebih cepat. Untuk itu kami mulai membuat rencana jangka panjang ke bisnis yang lebih hijau, tetapi pada saat yang sama memastikan keamanan energi tetap terjaga,” kata Emma.

Bisnis energi fosil masih menjadi kontributor terbesar pada pendapatan Pertamina, dengan sumbangan pada 2022 diperkirakan mencapai 86 persen. Sementara itu, porsi kontribusi bisnis hijau masih 5 persen dan petrokimia sebesar 9 persen.

Pertamina menargetkan kontribusi bisnis hijau bisa mencapai 13 persen pada 2030, sedangkan kontribusi energi fosil turun menjadi 66 persen dan petrokimia di level 21 persen. Pada 2060, kontribusi bisnis hijau diharapkan mencapai 30 persen, petrokimia 26 persen, dan energi fosil 44 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper