Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Melemah Bareng Mata Uang Lain

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan hari ini bersama mata uang Asia lainnya.
Mata uang dolar di salah satu penukaran uang di Jakarta, Minggu (9/10/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Mata uang dolar di salah satu penukaran uang di Jakarta, Minggu (9/10/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan hari ini Kamis (17/11/2022). Adapun seluruh mata uang kawasan Asia serentak dibuka melemah.

Berdasarkan data Bloomberg, pada 09.01 WIB, mata uang Garuda mengawali perdagangan dengan pelemahan 0,37 persen atau 58 poin ke Rp15.658 per dolar AS. Sementara itu indeks dolar AS terpantau menguat 0,15 persen atau 0,15 poin, di level 106,43.

Di tengah lesunya rupiah, seluruh mata uang di kawasan Asia turut bergerak melemah antara lain ringgit won Korea Selatan 0,86 persen, Malaysia 0,59 persen, dolar Taiwan 0,33 persen, yuan Cina 0,32 persen, baht Thailand 0,32 persen, peso Filipina 0,28 persen, rupee India 0,25 persen, dolar Singapura 0,09 persen, dolar Hong Kong 0,03 persen, dan yen Jepang 0,01 persen.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi di tengah sentimen ketegangan di Eropa setelah sebuah rudal ditembakkan ke Polandia dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Presiden Amerika Serikat yang menghadiri pertemuan G20 di Bali mengatakan rudal tersebut mungkin tidak ditembak dari Rusia.

Dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pelaku pasar terus memantau perkembangan Rancangan Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK) turunan dari Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang memiliki nilai strategis untuk proses pembangunan Indonesia.

“Sektor keuangan yang kuat sangat penting dan strategis dalam mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk untuk meningkatkan perekonomian Indonesia menjadi negara maju menuju tingkat pendapatan tinggi adil dan merata,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper