Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham PGAS Boncos saat Laba Ciamik dan Indonesia Kebal Resesi, Kenapa?

Saham PGN (PGAS) hari ini ditutup turun 4,88 persen, namun sepanjang tahun berjalan (year-to-date) harga sahamnya masih meningkat 34,55 persen.
Penguasaan aspek teknologi 4.0 menjadi salah satu fondasi utama PGN untuk mencapai keberhasilan pemanfaatan gas bumi di seluruh sektor. /PGN
Penguasaan aspek teknologi 4.0 menjadi salah satu fondasi utama PGN untuk mencapai keberhasilan pemanfaatan gas bumi di seluruh sektor. /PGN

Bisnis.com, JAKARTA – Saham anak usaha Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menutup perdagangan pada awal pekan ini dengan menjadi yang terboncos pada indeks Bisnis-27. Saham PGAS turun 4,88 persen pada penutupan Senin (7/11/2022).

Berdasarkan data RTI, saham PGAS masuk dalam 4 besar jajaran saham paling banyak diperdagangkan dengan total nilai perdagangan sebesar Rp446,9 miliar dengan volume mencapai 222,6 juta lembar saham.

Saham PGAS mengalami pelemahan sejak awal perdagangan hari ini hingga ditutup melemah 4,88 persen atau 95 poin ke level 1.850. Selama perdagangan hari ini rentang pergerakan saham PGAS pada 1.840--1.925.

Adapun, kapitalisasi pasarnya mencapai Rp44,85 triliun. Secara tahun berjalan harga sahamnya masih meningkat 34,55 persen.

Pelemahan saham PGAS terjadi di tengah pengumuman data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang naik 5,72 persen. Namun, salah satu sentimen negatif bagi PGAS berasal dari harga minyak dunia yang ambles pada perdagangan Senin (7/11/2022) ini.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember terpantau melemah 1,4 persen ke level US$91,28 per barrel. Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Januari terkoreksi 1,1 persen ke level US$97,50 per barel.

Harga minyak WTI terpantau turun pada awal pekan setelah melesat lebih dari 5 persen minggu lalu. Reli harga ini utamanya ditopang oleh spekulasi pasar terkait pelonggaran kebijakan lockdown pemerintah China dan melemahnya dolar AS.

Namun, harapan tersebut pupus setelah pemerintah China menegaskan kebijakan lockdown guna menaati protokol pencegahan virus corona. Strategi zero Covid China dilakukan dengan lockdown wilayah dan tes besar–besaran untuk mencegah penularan virus corona.

Padahal, PGAS berhasil mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 310,52 juta atau setara Rp4,88 triliun pada kuartal III tahun 2022

Pertumbuhan laba tersebut sebesar 8,39 persen jika dibanding dengan periode sama tahun lalu yang tercatat US$ 286,21 juta.

Kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan bersih perseroan sebesar 17,17 persen dari US$2,25 miliar menjadi US$ 2,64 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan, manajemen PGAS menyebutkan pendapatan perseroan ditopang oleh tiga segmen usaha, yakni niaga dan transmisi gas, eksplorasi dan produksi migas, serta operasi lainnya.

Sepanjang sembilan bulan pada 2022, segmen bisnis niaga dan transmisi membukukan pendapatan sebesar US$ 2,13 miliar, disusul eksplorasi dan produksi migas US$ 489,31 juta, serta operasi lainnya US$ 249,56 juta. Pendapatan dari ketiga segmen usaha tersebut mengalami peningkatan dibanding Januari-September 2021 yang masing-masing sebesar US$ 2,03 miliar, US$ 246,19 juta, dan US$ 234,37 juta.

Seiring dengan pendapatan yang meningkat, beban pokok penjualan juga mengalami peningkatan sebesar 15 persen yaitu dari US$ 1,81 miliar di kuartal III tahun 2021 menjadi US$ 2,03 miliar pada periode sama 2022.

Laba bruto perusahaan pelat merah tersebut juga mengalami peningkatan 38,27 persen yaitu US$ 607,01 juta dibanding periode tahun sebelumnya US$ 439,48 juta. 

Total aset PGAS sebesar US$7,35 miliar dengan total liabilitas sebesar US$3,93 miliar dan ekuitas sebesar US$3,41 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper