Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hadapi Volatilitas Pasar, Schroders Indonesia Pasang Strategi Defensif

Schroders Indonesia menjelaskan tingginya ketidakpastian global karena kekhawatiran resesi, tensi geopolitik, inflasi, dan tren kenaikan suku bunga acuan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 05 Oktober 2022  |  17:14 WIB
Hadapi Volatilitas Pasar, Schroders Indonesia Pasang Strategi Defensif
Ilustrasi resesi ekonomi global 2023 - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Schroders Indonesia terus berupaya menjaga kinerja produk–produknya di tengah tingginya ketidakpastian global. Strategi defensif pada pengelolaan portofolio produk menjadi pilihan.

Investment Director Schroders Indonesia Irwanti menjelaskan kondisi ketidakpastian global di pasar saat ini masih tinggi. Hal tersebut menurutnya dipicu oleh kekhawatiran resesi ekonomi global, tensi geopolitik yang tinggi, kenaikan inflasi dan tren kenaikan suku bunga acuan.

Seiring dengan hal tersebut, Schroders Indonesia pun menganut strategi defensif dalam mengelola portofolio produknya. Irwanti menuturkan, pemilihan saham menjadi sangat vital di tengah volatilitas pasar saat ini.

“Kami berfokus pada nama-nama yang mampu menghadapi risiko resesi dan berfokus pada permintaan domestik. Kami juga dapat menyesuaikan level kas dengan keadaan market terkini untuk lebih defensif,” jelasnya saat dihubungi, Rabu (5/10/2022).

Sementara itu, di pasar obligasi Schroders melihat bahwa pasar menghadapi tekanan inflasi dan kenaikan suku bunga acuan baik di Indonesia maupun global. Irwanti mengatakan, potensi reli di pasar obligasi Indonesia cenderung tipis dengan imbal hasil US Treasury yang sudah naik dan nyaris menyentuh 4 persen.

Di sisi lain, potensi pelemahan lebih lanjut di pasar obligasi saat ini sudah cenderung menipis. Hal ini karena outflow asing yang sudah cukup besar secara year to date (ytd) dan tingkat kepemilikan asing di SUN yang sudah menyentuh 15 persen.

Adapun, dalam pengelolaan produk reksa dana berbasis obligasinya, Schroders mulai melirik obligasi dengan tenor yang lebih panjang. Hal ini mengingat adanya operasi – operasi pendukung yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).

“Namun kami masih defensif secara durasi melihat upside yang terbatas walaupun downside juga sepertinya tidak banyak dari level ini,” pungkas Irwanti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

schroders indonesia Resesi ekonomi global
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top