Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Belum Ajukan Perpanjangan Kontrak Karya, INCO Pede Garap Pengolahan Nikel

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mengaku masih fokus pada kerja sama pengembangan proyek yang tengah dilaksanakan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 14 September 2022  |  14:11 WIB
Belum Ajukan Perpanjangan Kontrak Karya, INCO Pede Garap Pengolahan Nikel
CEO PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Febriany bersama Chairman Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited Chen Xuehua (Chairman Chen) dan rombongan mengecek pengerjaan smelter nikel di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kontrak karya emiten nikel PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) bakal berakhir pada akhir 2025. Namun demikian, perseroan belum melakukan perpanjangan kendati banyak proyek yang tengah digarap.

CEO Vale Indonesia Febriany Eddy mengakui perseroan belum mengajukan dokumen apa pun terkait perpanjangan kontrak karya. Sementara itu, emiten bersandi INCO tersebut masih fokus pada kerja sama pengembangan proyek yang tengah dilaksanakan.

“Memang belum submit, kan kita mau bangun pabrik 3 [unit]. Memang ada beberapa perizinan yang diperlukan, dengan adanya pabrik ini diharapkan mempercepat perizinan yang ada,” kata Febriany dalam konferensi pers, Selasa (13/9/2022).

Febri percaya diri bahwa dengan mengerjakan semua komitmen yang ada dan memenuhi semua persyaratan dan kebutuhan dengan baik, INCO akan dalam posisi yang baik untuk meminta perpanjangan kontrak.

“Pemerintah sedang menjaga iklim investasi. Dengan proyek yang sedang kami jalankan, yang juga mendukung rencana pemerintah membangun ekosistem baterai kendaraan listrik, harusnya mendukung kalau kami meminta perpanjangan,” imbuh Febri.

Lebih lanjut, INCO juga tetap secara paralel berkonsultasi dengan Kementerian ESDM terkait dengan proses perpanjangan kontrak karya.

“Kalau kami sudah siap, kami akan minta arahan dari pemerintah, tapi sementara sambil kita pelajari dulu,” jelasnya.

Saat ini INCO memiliki tiga proyek pengembangan pabrik dan smelter bersama mitranya dengan nilai investasi senilai US$8 miliar.

Proyek pertama, pengembangan smelter dan HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara bersama dengan Huayou Cobalt Co. Ltd. dengan total produksi nikel daam MHP (mixed hydroxide precipitate) sebesar 120.000. Diperkirakan tambang dengan nilai investasi US$4,5 miliar ini akan dikerjakan mulai 2022-2025.

Selanjutnya ada proyek bersama Taiyuan Iron & Steel Co. Ltd (TISCO) dan Shandong Xinhai Technology Co. Ltd. di Bahodopi, Sulawesi Tengah untuk pengembangan pabrik feronikel dengan kapasitas 73.000 ton per tahun dengan nilai investasi US$2,3 miliar. Proyek ini juga diperkirakan akan rampung pada 2025.

Terbaru, proyek limonit di Sorowako, Sulawesi Selatan dikembangkan juga bersama Huayou dengan nilai investasi US$1,8 miliar dan kapasitas produksi 60.000 ton nikel dalam MHP yang akan mulai digarap pada 2023 dan diperkirakan bisa rampung pada 2026. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inco vale indonesia tbk Nikel tambang
Editor : Yustinus Andri DP
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top