Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Diperkirakan Masih Tahan Suku Bunga BI7DRR di 3,5 Persen

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI besok kemungkinan menetapkan suku bunga di level 3,5 persen karena inflasi inti yang tercatat masih relatif rendah.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI besok kemungkinan menetapkan suku bunga di level 3,5 persen karena inflasi inti yang tercatat masih relatif rendah. Dok: Youtube Kemenkeu
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI besok kemungkinan menetapkan suku bunga di level 3,5 persen karena inflasi inti yang tercatat masih relatif rendah. Dok: Youtube Kemenkeu

Bisnis.com, JAKARTA – PT Infovesta Utama memperkirakan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur yang dilaksanakan pada pekan ini, masih mempertahankan suku bunga BI7DRR di level 3,5 persen.

Berdasarkan laporan mingguannya, Infovesta menjelaskan bahwa Bank Indonesia dalam keterangannya di konferensi pers terkait Pembukaan Rakornas Pengendalian Inflasi Tahun 2022 pada Kamis (18/8/2022) lalu yang berencana belum menaikkan suku bunga acuan.

“Sehingga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pekan ini kemungkinan suku bunga masih tetap di level 3,5 persen karena inflasi inti yang tercatat masih relatif rendah,” tulis Infovesta dalam laporan mingguannya, dikutip Senin (22/8/2022).

Keterangan BI pekan lalu tersebut turut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu menurut Infovesta ditutup menguat 0,61 peren atau parkir di level 7.172,43.

Infovesta menjelaskan, menguatnya indeks pada pekan lalu juga diikuti dengan net buy investor asing sebesar Rp2,99 triliun.

Di mana yang menjadi faktor penggerak utamanya adalah rilis data neraca pembayaran Indonesia yang surplus sebesar US$2,4 miliar pada kuartal II/2022 yang mengindikasikan kinerja ekspor terus membaik.

Surplus tersebut ungkapnya didukung oleh peningkatan surplus neraca perdagangan non migas seiring dengan harga komoditas global yang tetap tinggi. Dan ditambah lagi dengan pernyataan BI pekan lalu.

Perkiraan hasil RDG pekan ini yang tidak menaikkan suku bunga, menurut Infovesta mendorong optimisme investor terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di tengah kondisi global yang sedang tidak kondusif.

Adapun kondisi global yang menjadi perhatian saat ini yaitu risalah The Fed yang mengindikasikan akan terus menaikkan suku bunga sampai inflasi melambat secara signifikan atau menyentuh target yang ditetapkan.

Ditambah lagi dengan inflasi yang tinggi kemudian berdampak pada perlambatan ekonomi dunia.

Terkait dengan risalah The Fed tersebut, Infovesta mengungkapkan pasar obligasi masih mengalami fluktuasi, dengan harga mayoritas SBN ditutup melemah dan imbal hasil (yield) yang meningkat pada penutupan perdagangan Jumat (19/8/2022).

“Namun yield masih atraktif karena masih berada di level 6,4 persen - 7 persen. Saat ini investor perlu mewaspadai tekanan inflasi di dalam negeri karena akan mempengaruhi kenaikan yield obligasi,” ungkap Infovesta.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa rencana pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi pekan ini akan memicu lonjakan inflasi. Di mana kenaikan harga BBM tersebut merupakan respon dari tingginya harga minyak mentah dunia saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper