Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Alasan Bos Indofood Pede Harga Indomie Tidak Naik Banyak, Intip Harga Gandum Global

Indofood tidak akan menaikkan harga mi instan Indomie terlalu tinggi karena lonjakan harga gandum sebagai bahan baku sudah melewati level puncaknya.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 12 Agustus 2022  |  07:20 WIB
Alasan Bos Indofood Pede Harga Indomie Tidak Naik Banyak, Intip Harga Gandum Global
Indofood tidak akan menaikkan harga mi instan Indomie terlalu tinggi karena lonjakan harga gandum sebagai bahan baku sudah melewati level puncaknya. - Ilustrasi/indofood.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA —  PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menjamin harga Indomie tidak akan naik tinggi menyusul melambungnya harga gandum. Alasannya, harga gandum sudah melewati titik tertinggi.

Mengutip data Bloomberg, pada Kamis (11/8/2022) pukul 18.15 WIB, harga gandum di Bursa Chicago (CBOT) berada di level US$883,25 per gantang. Sepanjang 2022, harga naik 9,54 persen.

Namun, harga telah menurun dari posisi puncaknya di US$1.370 per gantang pada 17 Mei 2022. Setelah mencapai puncaknya, harga gandum berangsur turun ke posisi US$800-an, seperti pada awal 2022. 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) sekaligus Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Franciscus Welirang memastikan harga mi instan Indomie tidak akan meningkat sampai 3 kali lipat sebagaimana dikhawatirkan publik belakangan. Di sisi lain, harga gandum internasional terpantau turun.

Sosok yang akrab disapa Franky tersebut mengatakan harga gandum mencapai level tertinggi pada Mei 2022 dan akan tiba di Indonesia pada Agustus ini.

“Saya kira harga tidak akan naik sampai 3 kali lipat. Harga gandum tertinggi sudah lewat dan sepertinya tidak akan naik lagi,” katanya kepada Bisnis, Rabu (10/8/2022).

Dia menyebutkan tren penurunan harga gandum didukung oleh membaiknya panen di Kanada dan Amerika Serikat, salah satu pemasok gandum terbesar untuk Indonesia. Di sisi lain, kenaikan harga gandum untuk bahan baku tepung dan mi instan telah diikuti dengan penyesuaian harga jual sejak 2021.

“Harga gandum sudah memperlihatkan tren kenaikan sejak 2021 dan tidak semata-mata karena konflik Ukraina-Rusia, tetapi juga karena panen yang kurang baik di Amerika Utara,” lanjutnya.

Pada akhir 2021, harga terigu serbaguna dan protein tinggi telah naik 6 persen, sementara tepung protein rendah naik 15 persen. Di sisi lain, anak usaha INDF, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang merupakan produsen mi instan Indomie juga telah menaikkan harga jual dalam beberapa bulan terakhir.

Analis Samuel Sekuritas Pebe Peresia dalam risetnya tengah bulan lalu menjelaskan bahwa tren penurunan harga gandum akan menopang penguatan margin earning before interest and tax (EBIT) ICBP.

Meski lonjakan harga gandum sejak awal tahun ini telah memicu Indofood menaikkan harga jual rata-rata, tetapi posisinya sebagai pemimpin di pasar konsumer memungkinkan stabilnya penjualan ICBP. Perseroan diketahui mencatatkan pangsa pasar mie instan nasional di angka 70 persen.

“Perlu dicatat bahwa ICBP masih berhasil mencatat pertumbuhan volume penjualan di kuartal I/2022, meskipun menaikkan harga jualnya pada Desember 2021 (4 persen)," ujar Pebe.

Kenaikan harga itu menjadi salah satu pendorong meningkatkan pendapatan ICBP pada kuartal I/2022 sebesar 13,9 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp17,2 triliun. Angka itu sesuai dengan proyeksi Samuel Sekuritas atau 27,9 persen dari prediksi untuk sepanjang 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mi instan indomie indofood indf icbp
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top