Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mau Berinvestasi Saat Inflasi Tinggi? Investor Wajib Tahu Hal Ini

Investor diharapkan bisa mengenali profil risiko mereka ketika ingin berinvestasi saat inflasi sedang meningkat sesuai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Indonesia pada Juni 2022 telah mencapai 4,35 persen (year-on-year/yoy). 
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 03 Juli 2022  |  05:45 WIB
Mau Berinvestasi Saat Inflasi Tinggi? Investor Wajib Tahu Hal Ini
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Senin (14/2/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Investor diharapkan bisa mengenali profil risiko mereka ketika ingin berinvestasi saat inflasi sedang meningkat sesuai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Indonesia pada Juni 2022 telah mencapai 4,35 persen (year-on-year/yoy). 

Executive Vice President Wealth Management BCA Ugahary Yovvy Chandra menuturkan, bagi investor yang ingin berinvestasi saat inflasi, untuk terlebih dahulu mengenali profil risiko mereka.

Menurutnya, apabila investor tersebut bertipe konservatif, maka dapat berinvestasi di fixed income atau pasar uang. Akan tetapi, jika investor memiliki risiko profil moderat, maka sebanyak 30-40 persen investasinya bisa diletakkan pada saham.

"Kita harus tau saat ini, misalnya kalau kita tau saham itu high risk-high gain, return bagus, tapi kita juga punya risiko lebih tinggi," ujar Yovvy dikutip Minggu (3/7/2022).

Selain saham, investor juga bisa melakukan investasi di surat utang atau obligasi. Jika investasi tersebut diletakkan pada obligasi pemerintah, maka risikonya akan dijamin pemerintah.

"Jadi mungkin sekian persen investasi kita buat cari pertumbuhan kita taruh di saham. Tapi ada beberapa yang butuh fixed income dari kupon dari governance bonds sudah pasti," ucapnya.

Sementara itu, dari sisi usia, untuk investor yang akan pensiun harus siap untuk kehilangan pemasukan. Dia menyarankan, uang yang terbatas dari hasil pensiun, tidak ditaruh semua di saham. Menurutnya hal tersebut akan berbahaya.

"Tetapi kalau mau main saham, berarti kita sudah siap dengan risikonya. Misalnya anak-anak muda pasti profil risikonya lebih tinggi lah ya, itu boleh dicoba di saham. Jadi sangat tergantung pada situasi dan life stage-nya," kata dia.

Yovvy melanjutkan, saat ini Bank Central Asia (BCA) menemani nasabah yang membutuhkan investasi melalui Welma BCA. Setiap bulan, BCA akan memperbarui pandangan terhadap market, sehingga investor mendapatkan kabar terbaru untuk menentukan investasinya.

"Kita bisa melihat kondisi portofolio kita seperti apa, kondisi market, dan kita bisa membuat keputusan," tuturnya.

Sementaa itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengungkapkan inflasi year on year menyentuh 4,35 persen. Ini merupakan inflasi yang tertinggi sejak Juni 2017, di mana inflasi 4,37 persen.

Adapun, inflasi bulanannya mencapai 0,61 persen (month-to-month/mtm) dan inflasi tahun kalender 2022 sebesar 3,19 persen. Laju inflasi terus mengalami kenaikan di negara seperti Amerika Serikat. Indonesia juga dibayangi peningkatan inflasi, meskipun tidak setinggi Amerika Serikat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham investasi Inflasi investor
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top