Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Coba Bangkit Pagi Ini saat The Fed Kerek Suku Bunga 75 Basis Poin

Selain rupiah yang menguat pagi ini, mata uang Asia lainnya dibuka bervariasi yakni yen Jepang yang melemah 0,61 persen, dan won Korea Selatan yang menguat 0,52 persen.
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka menguat tipis di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (16/6/2022).

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda dibuka naik 7 poin atau 0,05 persen ke level Rp14.738 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang Asia lainnya dibuka bervariasi yakni yen Jepang yang melemah 0,61 persen, won Korea Selatan yang menguat 0,52 persen, yuan China yang menguat 0,24 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,34 persen.

Sementara itu, indeks dolar di pasar spot tercatat melemah 0,10 persen ke level 105,05.

Bank Sentral AS Federal Reserve akhirnya menetapkan kenaikan suku bunga 75 basis poin pada Rabu waktu setempat, meningkatkan perang melawan inflasi. Gubernur The Fed Jerome Powell mengisyaratkan adanya kenaikan lagi pada Juli 2022 namun cenderung tidak super agresif.

“Kenaikan 75 basis poin hari ini adalah kenaikan yang luar biasa besar dan saya tidak mengharapkan pergerakan sebesar ini menjadi umum,” kata Powell, mengutip Bloomberg, Kamis (16/6/2022). 

Sebelumnya, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan untuk perdagangan hari ini, rupiah akan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp14.420-Rp14.800.

Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi yang diukur atas Indeks Harga Konsumen (IHK) pada tahun 2022 akan meningkat hingga mencapai 4,2 persen.

Kondisi tersebut menjadi cerminan koordinasi fiskal dan moneter yang sangat kuat, di mana fiskal meningkatkan subsidi sehingga tidak semua kenaikan harga energi dan komoditas dunia berdampak kepada inflasi dalam negeri. BI juga ikut berpartisipasi dalam pembiayaan anggaran negara untuk tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper