Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ditutup Stagnan, BI Tak Buru-buru Kerek Suku Bunga Acuan?

Saat rupiah berakhir stagnan, mata uang Asia lainnya ditutup mayoritas menguat yakni yen Jepang yang menguat 0,30 persen, dan won Korea Selatan yang menguat 0,04 persen.
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis/Himawan L Nugraha
Uang dolar dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (26/4/2022) Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah ditutup relatif stagnan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (11/5/2022).

Berdasarkan data Bloomberg pukul 15.00 WIB, mata uang Garuda ditutup naik 0,5 poin ke level Rp14.554 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang Asia lainnya ditutup mayoritas menguat yakni yen Jepang yang menguat 0,30 persen, won Korea Selatan yang menguat 0,04 persen, yuan China yang naik 0,13 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,06 persen.

Indeks dolar di pasar spot tercatat terkoreksi 0,27 persen ke level 103,63.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar melayang di dekat level tertinggi dua dekade terhadap mata uang utama pada Rabu (11/5/2022). Hal ini menjelang pembacaan kunci pada inflasi yang memberikan petunjuk tentang seberapa agresif The Federal Reserve dalam pengetatan kebijakan moneter.

"Investor akan mencermati pembacaan indeks harga konsumen AS bulan April pada hari ini. Untuk tanda-tanda inflasi mungkin mulai mereda, dengan ekspektasi menyerukan kenaikan tahunan 8,1 persen dibandingkan dengan kenaikan 8,5 persen yang tercatat di bulan Maret," kata Ibrahim dalam risetnya, Rabu (11/5/2022).

Dia melanjutkan, investor condong masuk ke safe haven di tengah kekhawatiran tentang kemampuan The Fed untuk menekan inflasi tanpa menyebabkan resesi. Hal ini bersamaan dengan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan yang timbul dari perang di Ukraina dan meningkatnya kasus Covid-19 di China.

Dari dalam negeri, menurut Ibrahim sentimen datang dari inflasi Indonesia yang melonjak 0,95 persen (month to month/mtm) pada April 2022, dan ini menjadi level tertinggi sejak Januari 2017. Secara tahunan (year on year/YoY), inflasi Indonesia melesat ke level 3,47 persen atau tertinggi sejak Agustus 2019.

Inflasi tahunan tersebut semakin mendekati batas atas kisaran target BI yaitu 2-4 persen. Sedangkan inflasi inti pada April menembus 2,6 persen (YoY) yang merupakan rekor tertinggi sejak Mei 2020 atau dua tahun lalu di mana pada saat itu inflasi inti mencapai 2,65 persen.

Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) harus segera menyesuaikan suku bunga acuan dengan cara menaikkan suku bunga dalam pertemuan bulan ini BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), jika inflasi tinggi terus terjadi.

BI juga akan terus memonitor inflasi untuk memastikan bahwa BI akan memberikan respon kebijakan yang tepat. Selain itu juga akan terus memperkuat Kerjasama dengan pemangku kepentingan termasuk pemerintah

Adapun untuk perdagangan besok, Kamis (12/5/2022), Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp14.540-Rp14.580.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper