Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Emiten Sawit Siap-Siap Cuan Pada 2022, Apa Saja Faktor Pendorongnya?

Revisi bea ekspor dan kelanjutan penerapan biodiesel B30 akan menjadi pendorong kinerja emiten sawit pada tahun ini.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 02 Januari 2022  |  18:19 WIB
Pekerja mengangkat buah sawit yang dipanen di Kisaran, Sumatera Utara, Indonesia. - Dimas Ardian / Bloomberg
Pekerja mengangkat buah sawit yang dipanen di Kisaran, Sumatera Utara, Indonesia. - Dimas Ardian / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan bea keluar untuk ekspor dan kelanjutan program biodiesel B30 akan menjadi katalis positif untuk emiten-emiten di sektor perkebunan sawit.

Riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia menyebutkan, reli harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sepanjang tahun 2021 menjadi salah satu katalis positif untuk emiten perkebunan. Hal ini seiring dengan pengetatan pasokan dan tingginya permintaan dari China yang hendak mengembangkan bahan bakar biodieselnya ditengah krisis energi.

Selain itu, India juga memutuskan untuk menghilangkan pajak impor untuk masa perayaan hari besar di negara tesebut. Hal ini dilakukan guna menjaga tingkat inflasi di level yang stabil.

Sementara itu, pada tahun ini, salah satu sentimen yang akan mempengaruhi kinerja emiten sawit adalah revisi bea keluar CPO. Dalam peraturan terbaru, pemerintah Indonesia menyatakan bea keluar CPO akan diturunkan menjadi US$175 per metrik ton apabila harga CPO menembus US$1.000 per metrik ton.

Riset tersebut memaparkan, bea ekspor yang lebih rendah akan memicu pertumbuhan ekspor sawit dari produsen-produsen Indonesia. Hal tersebut akan berimbas kepada kenaikan harga CPO di pasar domestik.

“Tren ini akan berdampak pada penguatan kinerja keuangan emiten-emiten di sektor sawit,” demikian kutipan dari laporan tersebut, Minggu (2/1/2022).

Selain itu, program pengembangan bahan bakar biodiesel atau B30 di Indonesia yang terus berlanjut akan turut menopang kinerja perusahaan sawit Indonesia. Peningkatan mobilitas masyarakat seiring dengan pelonggaran PPKM juga akan berdampak pada kenaikan permintaan makanan, terutama di hotel, restoran, dan kafe.

Sementara itu, beberapa sentimen yang dapat menekan kinerja emiten CPO pada 2022 adalah kondisi cuaca yang kurang menguntungkan serta pemulihan keterbatasan tenaga kerja di Malaysia yang lebih cepat dari perkiraan.

Seiring dengan hal tersebut, NH Korindo menyematkan rating overweight untuk sektor perkebunan dengan rekomendasi saham LSIP.

Dalam laporannya, NH Korindo menyebutkan, prospek positif LSIP ditopang oleh produktivitas perusahaan yang optimal seiring dengan program penanaman kembali (replanting) yang dilakukan dengan baik.

Kinerja LSIP pada tahun ini juga akan didukung oleh tren harga CPO yang tetap tinggi seiring dengan kenaikan konsumsi masyarakat. Selain itu, perlambatan produksi minyak biji kedelai dan penurunan produksi CPO dari Malaysia dinilai akan berdampak positif terhadap prospek LSIP pada 2022.

NH Korindo memasang rekomendasi buy untuk LSIP dengan target harga Rp1.600. Laporan tersebut juga menyebutkan, LSIP diprediksi akan mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,52 triliun pada akhir 2021 dan Rp4,5 triliun pada 2022.

“Laba bersih LSIP untuk tahun 2021 kami prediksi pada Rp993 miliar, sementara untuk tahun 2022 berada di kisaran Rp938 miliar,” demikian kutipan laporan tersebut.

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo sawit bea keluar minyak sawit harga cpo
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top