Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Diprediksi Menguat ke Rp14.100 di Penghujung 2021, Ini Pemicunya

Nilai tukar rupiah diperkirakan mendapat dorongan dari fundamental ekonomi yang baik di Indonesia.
Karyawati menghitung uang rupiah di kantor cabang Bank KB Bukopin Syariah di Jakarta, Selasa (21/12/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha
Karyawati menghitung uang rupiah di kantor cabang Bank KB Bukopin Syariah di Jakarta, Selasa (21/12/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi masih menguat pada pekan terakhir perdagangan di tahun 2021.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah dalam perdagangan di penghujung tahun ini bakal mendekati level Rp 14.100 per dolar AS.

"Karena fundamental ekonomi di Indonesia cukup bagus," katanya dalam diskusi virtual, Jumat (24/12/2021).

Fundamental ekonomi di dalam negeri yang baik itu, menurut dia, bakal bertahan hingga tahun depan. Bahkan, ketika bank sentral AS atau The Fed berencana mengerek suku bunga acuan, perekonomian Indonesia diprediksi akan tetap kuat menahan gempuran-gempuran dari luar negeri.

Ibrahim menjelaskan kondisi perpolitikan di Indonesia cukup stabil saat ini membuat pemerintah percaya diri dengan sejumlah program kerjanya. Dengan begitu, kemungkinan besar anggaran Program Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN yang akan digelontorkan tahun depan bakal lebih besar.

"Dengan adanya kasus Covid Omicron ini walaupun dianggap tidak terlalu berbahaya dibandingkan dengan Delta paling tidak, pemerintah akan fokus ya terhadap kesehatan ya kemudian vaksinasi," ujarnya.

Dengan kegiatan vaksinasi di Indonesia sudah cukup bagus, menurut dia, pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya akan menguat. Oleh karena itu, Ibrahim memperkirakan kemungkinan besar nilai tukar rupiah bakal stabil.

Pada perdagangan Jumat (24/12/2021), rupiah menjadi mata uang yang paling perkasa di kawasan Asia Pasifik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,26 persen menjadi Rp14.197 per dolar AS. Namun, sejak awal tahun mata uang Garuda masih turun 1,03 persen.

Kenaikan rupiah terjadi bersamaan dengan apresiasi mata uang yen Jepang yang naik 0,02 persen, yuan China naik 0,01 persen, won Korea Selatan naik 0,12 persen, dan baht Thailand naik 0,16 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama dunia melemah 0,05 persen menjadi 96.019.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Newswire
Sumber : Tempo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper