Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Terbaik di Asia, Kurs Jisdor Menguat ke Rp14.349

Kurs referensi Jisdor menguat 35 poin atau 0,24 persen dari posisi Senin (20/12/2021) Rp14.384 per dolar AS.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 21 Desember 2021  |  16:07 WIB
Karyawan menghitung mata uang rupiah di salah satu cabang MNC Bank, Jakarta. Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan menghitung mata uang rupiah di salah satu cabang MNC Bank, Jakarta. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Kurs rupiah menguat berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada hari ini, Selasa (21/12/2021).

Data yang diterbitkan Bank Indonesia hari ini menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.349 per dolar AS, menguat 35 poin atau 0,24 persen dari posisi Senin (20/12/2021) Rp14.384 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup melesat 0,68 persen atau 98,50 poin ke posisi Rp14.303,50 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS terpantau melemah 0,14 persen ke level 96,42 pada pukul 15.30 WIB. 

Rupiah juga menguat paling tajam dibandingkan sejumlah mata uang di kawasan Asia lainnya yang juga terapresiasi, di antaranya rupee India yang naik 0,52 persen, ringgit Malaysia naik 0,41 persen, dolar Singapura naik 0,18, dan yuan China naik 0,09 persen terhadap dolar AS.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan pasar optimistis bahwa pemerintah bisa mencegah varian baru Covid-19 Omicron menyebar di Indonesia, walaupun akhir tahun ini masyarakat akan bepergian ke luar kota. 

Pemerintah ungkapnya sudah mengantisipasi dengan menginstruksikan kepada pemangku kebijakan yaitu aparat keamanan baik Polisi, TNI maupun dinas perhubungan dan Satpol PP untuk melakukan penyekatan-penyekatan baik di jalan utama maupun jalan lainnya  guna untuk mencegah laju mobilisasi masyarakat yang akan pergi ke luar kota.

“Harus diingat bahwa, libur Natal dan Tahun baru 2022 merupakan tradisi masyarakat yang tidak bisa dihindari, walaupun Omicron merupakan varian dengan mutasi 70 kali penyebaran varian Delta,” ungkap Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa (21/12/2021). 

Menurutnya, masyarakat begitu percaya diri dan menganggap bahwa Omicron itu tidak terlalu berbahaya, dikarenakan masyarakat sudah mengikuti anjuran pemerintah dengan melakukan vaksinasi tahap pertama dan tahap kedua, menjaga jarak dan menggunakan masker.

Ibrahim berpendapat, guna menanggulangi hal tersebut, pemerintah harus turun langsung ke lapangan untuk memberikan informasi tentang bahaya Omicron yang saat ini sudah menyebar di belahan dunia termasuk di Eropa maupun Amerika Serikat. 

Bahkan jelasnya negara-negara di Eropa sudah melakukan pengamanan ketat atau lockdown sedangkan Amerika Serikat sedang dalam proses lockdown.

Sementara itu, Ibrahim menyampaikan bahwa dampak dari komentar Senator AS Joe Manchin pada hari Minggu (19/12/2021), bahwa ia tidak akan mendukung paket Build Back Better Biden senilai US$1,75 triliun terus terasa pada hari ini.

Selain itu, Investor juga khawatir karena jumlah kasus Covid-19 di Eropa dan AS melonjak dan beberapa negara Eropa bersiap untuk memberlakukan pembatasan yang lebih ketat untuk memperlambat penyebaran kasus Omicron. 

Lalu, di Asia Pasifik Reserve Bank of Australia merilis risalah dari pertemuan terbarunya pada hari sebelumnya. Bank sentral Australia mengatakan dalam risalah bahwa memulai pengurangan aset pada pertemuan pertama 2022 dan mengakhirinya pada Mei konsisten dengan perkiraan yang ada.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah jisdor
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top