Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masih Prospektif, Bank Diperkirakan Buru Obligasi Negara (SBN)

Daya tarik SBN di tahun depan terkait dengan likuiditas yang cukup baik, real yield yang terjaga, dan juga rupiah yang stabil.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 13 Desember 2021  |  23:33 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Likuiditas perbankan yang masih tinggi dan adanya skema burden sharing yang tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) III menandakan Surat Berharga Negara (SBN) masih akan menarik untuk dimiliki di tahun 2022.

Vice President of Economist Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan bahwa saat ini perbankan masih mencatatkan net buy di pasar obligasi, meski pada Desember ini proporsinya berkurang.

“Dapat dilihat bahwa sektor perbankan masih mencatatkan net buy di pasar obligasi, yang menandakan bahwa sektor perbankan masih memiliki appetite untuk obligasi,” jelas Josua kepada Bisnis, Senin (13/12/2021).

Dia menjelaskan, salah satu pembalik atau upside di pasar obligasi diantaranya adalah masih adanya potensi penurunan yield ditengah sentimen tapering oleh The Fed.

Kemudian juga sejalan dengan rencana penerbitan SBN yang semakin rendah dari pemerintah pada tahun depan.

Potensi upside ini sendiri ungkap Josua terutama dapat terjadi pasca kenaikan suku bunga The Fed yang pertama, atau setelah sentimen ketidakpastian mulai mereda.

Profit taking ketika sentimen mulai mereda dapat menjadi insentif sektor perbankan dalam melakukan pembelian SBN, terutama pada semester kedua tahun 2022,” paparnya.

Sementara itu, Josua menjelaskan bahwa penurunan proporsi perbankan pada bulan Desember 2021, dikarenakan oleh adanya peningkatan kepemilikan oleh Bank Indonesia sebanyak Rp58 triliun yang sejalan dengan bagian dari SKB III.

Dari sisi lain, lanjut Josua penurunan proporsi bulan ini juga berkaitan dengan tidak adanya penerbitan SBN baru sehingga penambahan kepemilikan SBN dari perbankan tidak dapat meningkat terlalu tinggi selama awal Desember ini.

Sementara itu, Senior Economist Samuel Sekuritas, Fikri C. Permana mengungkapkan daya tarik SBN di tahun depan terkait dengan likuiditas yang cukup baik, real yield yang terjaga, dan juga rupiah yang stabil.

Fikri menjelaskan bahwa pada 2022, tapering off oleh The Fed masih akan berlangsung dan inflasi pada tahun depan juga masih berada dalam level tinggi.

“Disamping itu juga kalau untuk SUN khususnya yield spread antara SUN dan US Treasury yang masih cukup baik,”

Terkait dengan kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia di tahun mendatang diperkirakan Fikri masih akan terus tumbuh berkaitan dengan SKB III, sehingga ada kemungkinan tambahan mencapai Rp200 triliun-Rp250 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi sbn Obligasi Pemerintah
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top