Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lakukan Restrukturisasi dan Terdampak PPKM, Ini Strategi HERO

Hero Group memfokuskan bisnisnya di tiga merek yaitu Hero Supermarket, Guardian, dan IKEA
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  20:20 WIB
CEO PT Hero Supermarket Tbk. Patrik Lindvall - Istimewa
CEO PT Hero Supermarket Tbk. Patrik Lindvall - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Grup emiten peritel yang menaungi tiga brand yaitu Hero Supermarket, Guardian dan IKEA, PT Hero Supermarket Tbk. (HERO) mencatatkan penurunan kinerja pada kuartal III/2021.

Manajemen perseroan mengungkapkan, penurunan kinerja tersebut berkaitan dengan aksi restrukturisasi dan dampak dari pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat kembali merebaknya pandemi Covid-19 di tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan yang tidak diaudit per 30 September 2021, emiten yang menggunakan kode saham HERO tersebut membukukan penurunan pendapatan bersih sebesar 35,19 persen.

Pada kuartal III/2021, pendapatan bersih HERO sebesar Rp4,47 triliun yang turun jika dibandingkan dengan pendapatan bersih perseroan pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebanyak Rp6,86 triliun.

Direktur Keuangan Hero Group Erwantho Siregar dalam paparan publik perseroan yang dilaksanakan pada Kamis (9/12/2021), menjelaskan beberapa penyebab penurunan pendapatan bersih perseroan.

“Penurunan ini sangat dipengaruhi secara signifikan oleh pandemi Covid-19 dan PPKM yang berdampak pada jumlah pengunjung yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu dan juga dengan jam operasional yang lebih singkat,” papar Erwantho dalam acara public expose, pada Kamis sore, (9/12/2021).

Pemberlakuan PPKM tersebut menurutnya sangat berdampak terutama terhadap gerai-gerai Hero Group yang ada di dalam pusat perbelanjaan atau mall.

Selain itu, Erwantho melihat juga terdapat perubahan pola belanja masyarakat, salah satunya dengan menurunnya popularitas hypermarket.

Kemudian, dia menyampaikan bahwa pada tahun ini, juga terjadi perubahan segmen penjualan secara proporsi. Erwantho menjelaskan, pada tahun 2020 penjualan segmen makanan berkontribusi sebesar 70 persen dan non-food berkontribusi sebesar 30 persen.

Sementara, pada tahun 2021, segmen makanan berkontribusi sebesar 55 persen dan non-food berkontribusi sebesar 45 persen.

“Dengan tantangan yang ada kita melihat terjadi peningkatan terhadap bisnis e-commerce. Salah satu contohnya untuk IKEA, kontribusi bisnis e-commerce di kuartal III/2021 ini jauh lebih tinggi dibanding kuartal-kuartal sebelumnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, laba kotor perseroan juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari Rp1,79 triliun menjadi Rp1,22 triliun. Dengan beban pokok pendapatan yang ikut turun dari Rp5,07 triliun menjadi Rp3,23 triliun.

“Di dalam total pengeluaran ini juga terdapat total biaya restrukturisasi akibat dari tinjaun strategi bisnis yang kami lakukan di tahun ini,” jelasnya.

Perseroan pada periode sembilan bulan pertama di tahun 2020 yang telah mengalami kerugian sebanyak Rp339,46 miliar, pada tahun ini menambah jumlah rugi periode berjalan sebesar 33,54 persen menjadi Rp747,43 miliar.

Erwantho menyampaikan, peningkatan kerugian dibandingkan dengan tahun lalu terjadi karena turunnya penjualan dan adanya beban restrukturisasi.

Sementara itu, total aset perseroan juga mengalami sedikit penurunan pada kuartal III/2021 menjadi Rp4,53 triliun dibandingkan dengan kuartal III/2020 sebanyak Rp4,84 triliun. Dengan jumlah ekuitas yang ikut turun dari Rp1,85 triliun menjadi Rp1,10 triliun.

Di sisi lain, jumlah liabilitas perseroan meningkat dari Rp2,98 triliun pada kuartal III/2020 menjadi Rp3,44 triliun pada kuartal III/2021.

President Director Hero Group Patrik Lindvall dalam acara yang sama menyampaikan bahwa perseroan saat ini akan fokus pada tiga brand miliknya yaitu Hero Supermarket, Guardian, dan IKEA setelah di tahun ini menutup lini bisnis supermarket yaitu Giant.

“Perusahaan memutuskan untuk memfokuskan bisnisnya terhadap tiga merek kami yaitu Hero Supermarket, Guardian, dan juga IKEA,” papar Patrik.

Perubahan dan fokus lini bisnis tersebut ungkapnya beriringan dengan langkah HERO menghadapi dan memanfaatkan dinamika pasar saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel hero supermarket Kinerja Emiten hero
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top