Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Amerika Siap Rilis Cadangan, Harga Minyak Naik Terbatas

Persediaan minyak mentah AS dalam sepekan naik sebesar 2,31 juta barel untuk pekan yang berakhir 19 November. Stok bensin juga dilaporkan naik sebesar 2,25 juta barel.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 24 November 2021  |  13:57 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mengalami kenaikan tipis setelah sempat turun ke bawah US$80 per barel lantaran beberapa negara konsumen utama bersiap merilis cadangan minyak daruratnya

Meski demikian, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan dukungan pada pasar minyak dan membatasi penurunan harga lebih lanjut.

Pada perdagangan Rabu (24/11/2021) siang sesi Asia, harga minyak mentah di West Texas Intermediate (WTI) naik tipis 0,30 poin atau 0,38 persen ke US$78,0 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent naik 0,18 poin atau 0,22 persen ke US$82,49 per barel.

Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS dalam sepekan naik sebesar 2,31 juta barel untuk pekan yang berakhir 19 November. Stok bensin juga dilaporkan naik sebesar 2,25 juta barel.

“Data dari API tersebut mengindikasikan permintaan pasar di AS yang sedang lesu. Sementara untuk angka resmi versi pemerintah baru akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration [EIA],” tulis tim riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) dalam riset, Rabu (24/11/2021).

Namun, ada faktor yang membebani pergerakan harga minyak, yakni setelah pihak Gedung Putih pada Selasa (23/11/2021) mengumumkan bahwa AS akan merilis 50 juta barel minyak dari cadangan strategis negara dengan harapan dapat menurunkan harga bensin yang telah melonjak ke level tertinggi dalam 7 tahun.

Departemen Energi AS berencana merilis 50 juta barel minyak tersebut dalam dua bagian yaitu 32 juta barel dalam beberapa bulan ke depan dan 18 barel sisanya sebagai bagian dari penjualan minyak yang sebelumnya telah disetujui Kongres.

Pihak Gedung Putih juga menambahkan bahwa aksi itu akan dilakukan secara paralel dengan negara-negara konsumen energi utama lainnya termasuk China, India, Jepang, Korea Selatan dan Inggris.

Menyusul pengumuman dari AS, India pada hari Selasa juga mengumumkan akan merilis sekitar 5 juta barel minyak dari cadangan daruratnya dalam 7-10 hari kedepan. Korea Selatan dan Jepang pada Rabu pagi juga mengumumkan hal serupa, di mana masing-masing akan merilis sekitar 3,8 juta barel dan 4,2 juta barel dari cadangan daruratnya.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru memberikan dukungan pada harga minyak setelah Koalisi pimpinan Saudi mengatakan bahwa pihaknya akan meluncurkan serangan udara yang menargetkan situs-situs militer di ibukota Yaman Sanaa. Hal ini membuat warga sipil dihimbau untuk tidak berkumpul atau mendekati daerah yang ditargetkan.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak akan berada dalam kisaran resistance di US$79,90 US$8130 per barel serta kisaran support di US$77,10-US$75,59 per barel,” kata tim riset ICDX.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak brent harga minyak mentah wti
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top