Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Ramai Pasar soal Nilai IPO Mitratel hingga Zurich Berambisi Duduki Jajaran Tiga Teratas Asuransi Umum

Sejumlah topik di Bisnisindonesia.id mulai dari IPO Mitratel yang disebut tak akan memecahkan rekor baru dan Zurich berambisi merupakan dua dari lima pilihan yang patut Anda baca lebih lengkap.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 06 November 2021  |  14:35 WIB
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan ponsel di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (6/10/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan ponsel di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (6/10/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis, JAKARTA— Pasar diramaikan oleh estimasi nilai penggalangan dana Mitratel, perusahaan menara anak usaha Telkom pada akhir bulan ini. Artikel tersebut merupakan satu dari lima artikel pilihan editor di Bisnisindonesia.id. Simak seluruh pilihan lengkapnya. 

1. Gugurnya Asa Mitratel Pecah Rekor Baru Nilai IPO

Estimasi sejumlah kalangan bahwa nilai initial public offering atau IPO PT Dayamitra Telekomunikasi bakal kembali memecahkan rekor yang telah dicapai PT Bukalapak.com Tbk. pada pertengahan tahun ini tampaknya harus pupus.

Emiten yang kerap dikenal dengan nama Mitratel ini baru saja menuntaskan proses penawaran awal atau bookbuilding pada Kamis (4/11/2021) kemarin.

Sebelumnya, perseroan mengungkapkan bahwa dalam aksi IPO ini, perseroan melepas 25,54 miliar saham ke publik, setara 29,85 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah aksi korporasi itu rampung.

Dalam bookbuilding ini, perseroan menawarkan saham kepada investor publik dengan rentang harga antara Rp775 hingga Rp975 per saham. Jika realisasi harga IPO mencapai batas atas Rp975, dana yang akan dikantongi perseroan mencapai Rp24,9 triliun.

Ini bakal menjadi rekor IPO tertinggi di Indonesia. Adapun, saat ini rekor IPO masih dipegang oleh PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) yang juga baru IPO tahun ini, yakni senilai Rp21,9 triliun.

Namun, berdasarkan laporan Bloomberg pada Jumat (5/11/2021), Mitratel dikabarkan mematok harga saham sebesar Rp800 untuk melepas sahamnya.

Dengan harga tersebut, Mitratel berpotensi meraih dana segar sebesar US$1,3 miliar atau Rp20,43 triliun, sedikit di bawah jumlah yang dikumpulkan BUKA sebesar US$1,5 miliar atau sekitar Rp21,26 triliun. Lalu, bagaimana dengan minat pasar terhadap hal itu? Simak artikel lengkapnya di bisnisindonesia.id.

2. Dana Infrastruktur US$1 Triliun Disetujui, Kemenangan Besar Biden

Kongres Amerika Serikat meloloskan paket belanja infrastruktur senilai US$1 triliun (Rp14,4 kuadriliun), yang merupakan kemenangan domestik yang besar kepada Presiden Joe Biden.

Negosiasi atas RUU Pekerjaan Umum, yang disahkan DPR dengan 228-206 suara, menciptakan perpecahan pahit di antara Demokrat. Sementara itu, DPR bergerak maju dengan RUU Pengeluaran Sosial yang lebih ambisius yang disukai oleh anggota parlemen liberal.

Paket infrastruktur sekarang menuju ke meja Biden untuk ditandatangani menjadi undang-undang.

Ditagih sebagai ukuran pengeluaran "sekali dalam satu generasi", undang-undang infrastruktur mengusulkan US$550 miliar dalam pengeluaran federal langsung untuk meningkatkan jalan raya, jalan dan jembatan, dan untuk memodernisasi sistem transit kota dan jaringan kereta api penumpang.

Perjanjian tersebut juga menyisihkan dana untuk energi bersih, air minum bersih, dan internet berkecepatan tinggi. Namun, ternyata dinamika terjadi bagaimana akhirnya anggaran jumbo itu disetujui. Simak informasi selengkapnya di bisnisindonesia.id.

3. Pengangguran Memburuk di Tengah Tren Ekspansi Manufaktur

Ada sisi menarik dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2021 secara kuartalan maupun secara tahunan. Kendati kinerja sektor manufaktur membaik, ternyata hal itu tak memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan jumlah pengangguran.

Pasar kerja Indonesia kembali mengalami pemburukan, tecermin dari anjloknya serapan tenaga kerja serta naiknya angka pengangguran dan tingkat pengangguran terbuka yang justru terjadi di tengah tren ekspansi industri pengolahan nonmigas.  

Menyitir pendataan ketenagakerjaan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk bekerja per sensus Agustus 2021 hanya mencapai 131,05 juta jiwa, turun tipis dibandingkan dengan sensus Februari 2021 sebanyak 131,06 juta jiwa.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan jumlah angkatan kerja yang menembus 140,15 juta jiwa per sensus Agustus 2021, alias naik dari capaian periode sensus sebelumnya yaitu 139,81 juta jiwa per Februari 2021.

Artinya, jumlah tenaga kerja yang terserap pada tahun ini justru lebih sedikit dibandingkan dengan ketersediaan penduduk usia kerja yang ada di Indonesia. Uraian selengkapnya bisa Anda baca di bisnisindonesia.id.

4. Aksi Kepepet Bank Fama dan Ambisi Emtek di Bisnis Bank

Tak henti-hentinya PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) mencuri perhatian publik melalui aksi investasi strategis. Kali ini, giliran PT Bank Fama International yang bakal menjadi sasaran akuisisi perusahaan besutan taipan Eddy Kusnadi Sariaatmadja ini.

Bank Fama telah mengumumkan aksi korporasi itu dalam prospektus ringkas yang diterbitkan di Harian Bisnis Indonesia edisi Jumat (5/11/2021). Elang Mahkota Teknologi atau Emtek bakal mengakuisisi 93 persen saham Bank Fama dari empat pemegang saham lainnya.

Aksi tersebut akan dilakukan Emtek melalui anak perusahaannya yang bergerak di bidang jasa konsultasi manajemen, yakni PT Elang Media Visitama (EMV). Adapun, Emtek menggenggam 99,99 persen saham EMV, sedangkan sisanya, tepatnya 0,00005 persen dimiliki oleh PT Kreatif Media Karya.

Dalam prospektus tersebut diungkapkan bahwa alasan dan tujuan pengambilalihan Bank Fama adalah dalam rangka memenuhi Peraturan OJK No. 12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum, terutama terkait kewajiban pemenuhan modal inti minimum.

Dalam aksi korporasi ini, Emtek bakal mengambil sebagian besar saham dari salah satu pemegang saham Bank Fama, serta seluruh saham dari tiga pemegang saham lainnya. Satu pemegang saham yang bakal diambil alih sebagian besar kepemilikannya yakni dari Junus Jen Suherman. Informasi lebih lengkapnya bisa Anda peroleh di bisnisindonesia.id.

5. Zurich Berambisi Masuk Jajaran Tiga Teratas Asuransi Umum

Menandai penyelesaian aksi korporasinya, Zurich Asuransi Indonesia berambisi masuk ke jajaran tiga teratas asuransi umum pada 2023. Saat ini, perusahaan berada di urutan kelima sebagai perusahaan dengan pangsa pasar terbesar.

Melalui akuisisi Adira Insurance dilakukan pada 2019, perusahaan menghubungkan segala aspek mulai dari sistem, keahlian dan tim sehingga menjadi sumber kekuatan baru. Ambisi Zurich untuk naik kelas bukan tak mungkin. Pasalnya, Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi Zurich.

Hal ini telah ditunjukkan dengan investasi Zurich di Indonesia. Dengan demikian, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan prospek pertumbuhan asuransi umum yang menjanjikan ke depannya seiring pulihnya aktivitas ekonomi.

Prospek bisnis yang menjanjikan turut terlihat pada kinerja industri. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pendapatan premi asuransi umum mengalami pertumbuhan positif sebesar 11,5 persen pada Agustus 2021 atau mencapai Rp50,16 triliun dibandingkan Rp44,56 triliun pada bulan sebelumnya.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga telah mendorong peningkatan kesadaraan masyarakat untuk mendapatkan perlindungan yang lebih baik. Ini menjadi peluang bagi Zurich Asuransi Indonesia untuk mengenalkan manfaat asuransi bagi masyarakat Indonesia dengan pendekatan modern yang berpusat pada pelanggan. Lalu, bagaimana strategi Zurich untuk menaikkan peringkat di jajaran penguasa pasar? Baca berita selengkapnya di bisnisindonesia.id.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo pengangguran zurich insurance mitratel asuransi umum emtek bank kecil Joe Biden bank fama international
Editor : Duwi Setiya Ariyanti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top