Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diterpa Isu Pailit, Restrukturisasi Utang Garuda Indonesia (GIAA) Berjalan Lamban?

Sampai saat ini belum ada satupun negosiasi dengan 32 lessor atau pihak memberikan kredit dan penyewaan pesawat kepada PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) yang berhasil.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 20 Oktober 2021  |  18:13 WIB
Garuda Indonesia Bermasker  - Garuda Indonesia
Garuda Indonesia Bermasker - Garuda Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA -Proses restrukturisasi utang PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tampaknya memakan waktu yang cukup lama di tengah isu rencana pemerintah mempailitkan perusahaan penerbangan pelat merah tersebut.

Sebagai informasi, dari 32 lessor yang memberikan kredit dan penyewaan pesawat kepada PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), seluruhnya masih dalam proses negosiasi sampai saat ini.

"Negosiasi lessor on going masih. [Dari 32 lessor] semuanya masih dalam pembicaraan," ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra kepada Bisnis, Rabu (20/10/2021).

Irfan menuturkan manajemen Garuda Indonesia hingga saat ini, belum ada informasi resmi yang diterima perseroan berkenaan dengan opsi tindak lanjut pemulihan kinerja Perseroan yang saat ini berkembang di media massa termasuk rencana mempailitkan perseroan oleh Kementerian BUMN.

"Dapat kami pastikan sampai dengan saat ini, perseroan terus melakukan langkah langkah strategis akselerasi pemulihan kinerja dengan fokus utama perbaikan fundamental kinerja Perseroan yakni penguatan basis performa finansial maupun fokus model bisnis dalam jangka panjang, melalui program restrukturisasi menyeluruh yang saat ini tengah kami rampungkan," ungkap manajemen.

Upaya tersebut, turut diintensifkan melalui berbagai upaya langkah penunjang perbaikan kinerja khususnya dari aspek operasional penerbangan.

Emiten berkode GIAA ini optimistis dengan sinyal positif proyeksi industri penerbangan nasional di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mulai terkendali serta dibukanya sektor pariwisata unggulan Indonesia.

Manajemen GIAA juga menegaskan diskusi yang dilakukan antara pemerintah melalui Kementerian BUMN sebagai pemegang saham pengendali dengan Perseroan saat ini adalah berkaitan dengan rencana restrukturisasi yang akan dilaksanakan.

"Hal ini selaras dengan proses PKPU yang saat ini tengah berjalan, yang utamanya ditujukan untuk mendorong percepatan pemulihan kinerja Perseroan," imbuhnya.

Proses restrukturisasi keuangan, yang didalamnya meliputi restrukturisasi utang yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh beberapa konsultan pendamping, sampai dengan saat ini prosesnya masih terus berlanjut dan merupakan fokus utama Perseroan.

Sebelumnya, beredar informasi Kementerian Negara BUMN membuka opsi mempailitkan Garuda Indonesia (GIAA) yang merugi US$2,44 miliar. Tindakan tersebut dilakukan bila proses restrukturisasi utang dengan kreditur menemui jalan buntu.

Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo, negosiasi restrukturisasi utang GIAA dilakukan dengan seluruh lender, lessor pesawat, hingga pemegang sukuk global. Negosiasi moratorium utang dan restrukturisasi kredit dilakukan tiga konsultan yang ditunjuk Kementerian Negara BUMN.

“Kalau mentok ya kita tutup, tidak mungkin kita berikan penyertaan modal negara karena nilai utangnya terlalu besar,” kata Tiko.

Sebelas kreditur dalam negeri telah mencapai kesepakatan restrukturisasi utang pada September lalu. Meski demikian, negosiasi dengan kreditur dan lessor masih alot dan membutuhkan waktu yang panjang.

"Lessor-nya ada banyak banget, 32. Apakah bisa berhasil? Saya bilang peluang 50:50,’’ ungkap Tiko, dalam diskusi dengan sejumlah pemimpin redaksi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia giaa restrukturisasi utang
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top