Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonom Ungkap Krisis Energi China Bikin Pasar Komoditas Terguncang

Ekonom mengungkapkan alasan krisis energi China bisa membuat pasar komoditas dunia terguncang. Simak penjelasannya.
Foto udara kapal yang mengangkut kontainer di Pelabhuan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg/Qilai Shenn
Foto udara kapal yang mengangkut kontainer di Pelabhuan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg/Qilai Shenn

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pemerintah China membatasi industri padat karbon dan krisis energi telah merusak perhitungan pasokan dan permintaan untuk beberapa komoditas utama dunia. Simak penjelasan bagaimana krisis energi China membuat pasar komoditas terguncang. 

Arahan dari Beijing tahun ini, antara lain telah menurunkan harga bijih besi dan menaikkan harga untuk aluminium. Namun, gangguan di jantung industri China dan kekhawatiran tentang sektor properti membuat beberapa prediksi lebih banyak penyimpangan kebijakan.

Dengan arahan Presiden Xi Jinping, China bertekad untuk mengurangi intensitas karbon dan emisi di seluruh industri dan mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060.

Ekonom senior di Sekuritas Nomura Tatsufumi Okoshi mengatakan perhatian pelaku pasar akan fokus pada China dan bagaimana kebijakan terkait energi diterapkan. 

"Fokus utama bagi para pedagang adalah industri baja, yang telah menjadi target utama tindakan kebijakan lingkungan dan yang nasibnya terikat dengan ledakan konstruksi yang terlihat dalam bahaya," ujarnya seperti dilansir dari Nikkei Asia, Senin (18/10/2021). 

Harga bijih besi, bahan utama baja, melonjak lebih dari 40 persen antara awal tahun dan pertengahan Juli, hanya merosot hampir setengahnya sebelum titik terendah di awal bulan ini.

Pemerintah China pada awal tahun ini memerintahkan pabrik baja untuk memastikan bahwa total output untuk tahun 2021 tetap setara dengan tingkat 2020. Hal ini yang mungkin sedikit orang percaya karena produksi baja China mencapai rekor tertinggi pada bulan April.

Setelah peringatan 100 tahun Partai Komunis China pada bulan Juli, pihak berwenang China mulai menuntut pabrik baja secara ketat mematuhi target tersebut. Output pada Agustus turun 12 persen dari tahun sebelumnya dan 15 persen lebih rendah dari April, 

"Penurunan yang akan berdampak signifikan pada bijih besi," kata analis SMBC Nikko Securities Atsushi Yamaguchi.

Pabrik baja China harus menjaga produksi pada tingkat depresi Agustus di sisa tahun ini agar tidak melebihi tingkat 2020. Kementerian Perindustrian pekan lalu meminta lebih banyak pabrik baja untuk memangkas produksi dari 15 November hingga 15 Maret tahun depan untuk mencapai target pengurangan produksi. 

Kebijakan ini juga dirancang untuk mencegah polusi udara selama Olimpiade Musim Dingin Beijing Februari dan sebagai tanggapan terhadap kekurangan listrik.

Pembatasan Batu Bara

Penggunaan energi dari pembangkit listrik tenaga batu bara juga telah dibatasi di bawah aturan lingkungan, melalui pembatasan penggunaan listrik industri yang mulai berlaku akhir bulan lalu, menyebabkan efek lainnya.

Industri aluminium padat energi paling terdampak atas kebijakan ini. Pabrik mengalami pemadaman listrik dan kekurangan batu bara. Beberapa pabrik peleburan mengurangi produksi dan harga patokan global untuk logam, dan kini sudah meningkat karena permintaan global yang tinggi, naik lebih lanjut. 

Menurut lembaga riset Antaike, pabrik peleburan tembaga utama negara itu pada September mempertahankan produksinya dari bulan ke bulan. Pembatasan dilakukan lantaran pemeliharaan dan pembatasan penggunaan listrik mencegah mereka membuat lebih banyak logam. 

Stok tembaga di gudang London Metal Exchange turun 27 persen dari akhir Agustus menjadi sekitar 187.000 ton pada pertengahan Oktober.

Krisis tersebut semakin mempengaruhi industri bahan baku lainnya seperti smelter seng serta kilang tembaga dan nikel. China merupakan pemasok terbesar logam olahan utama, menyumbang setidaknya sepertiga dari kebutuhan dunia dalam komoditas. Karena itu, ketegangan pasokan di sana biasanya secara langsung menyebabkan kenaikan harga patokan global.

"Karena ketegangan pasokan domestik, China membeli logam olahan dari luar negeri," ujar kepala ekonom di Sumitomo Corporation Global Research Takayuki Honma.

Beberapa analis memperkirakan pihak berwenang China dapat memperluas pembatasan energi mereka. 

"Saat kita memasuki musim dingin, jika pemotongan untuk industri aluminium tidak berhasil, maka kita bisa melihat pembatasan yang lebih luas," kata seorang ahli tembaga dan direktur penelitian di Wood Mackenzie Nick Pickens. 

Keluh kesah dari industri telah mendorong Beijing untuk mengubah kebijakan di beberapa bidang. Namun, pemerintah China tidak harus dengan cara yang akan membalikkan tekanan ke atas pada beberapa harga komoditas.

Pekan lalu, China memberi pembangkit listrik tenaga batu bara lebih banyak kebebasan untuk menaikkan harga, menghilangkan disinsentif untuk meningkatkan produksi pada saat harga batu bara global yang tinggi telah mengurangi keuntungan mereka. 

Aturan pemerintah China sebagian besar telah mencegah produsen listrik untuk membebankan biaya yang lebih tinggi kepada pengguna. Namun, karena pergeseran ini, harga listrik berbahan bakar batu bara akan dibiarkan berfluktuasi hingga 20 persen di sekitar patokan, dibandingkan dengan batas saat ini sebesar 10 persen.

Krisis Evergrande

Naohiro Niimura dari Market Risk Advisory, konsultan komoditas di Tokyo, percaya hal ini akan meningkatkan biaya produksi logam dan oleh karena itu harga logam global. 

Dan para analis dengan gugup mengamati krisis di sekitar China Evergrande Group, pengembang properti raksasa yang telah berhenti membayar sebagian utangnya, dan data terbaru tentang ekonomi China, yang telah menunjukkan tanda-tanda pendinginan.

Masalah Evergrande bisa berdampak pada sektor properti. Pemerintah Beijing telah mencoba untuk memadamkan spekulasi real estate dengan membatasi pinjaman oleh pengembang besar, dengan konsekuensi menurunkan kegiatan konstruksi. 

Namun, kebijakan itu uga membanjiri sistem keuangan dengan likuiditas karena Evergrande telah diterpa badai krisis. Beberapa analis memperkirakan itu dapat mengurangi tekanannya pada pengembang setelah membuktikan tekadnya dan menunjukkan bahwa tidak ada perusahaan yang terlalu besar untuk gagal. 

Aktivitas konstruksi China menyumbang sekitar 25 persen dari konsumsi baja global. Setiap perubahan tingkat investasi akan berdampak besar pada permintaan bijih besi global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper