Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga CPO Meroket, Cermati Saham Emiten Perkebunan Sawit Ini

Saham-saham di sektor sawit terbilang menarik hingga akhir tahun ini seiring dengan reli harga CPO.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 Oktober 2021  |  13:20 WIB
Kebun Sawit.  - Sinar Mas Agribusiness
Kebun Sawit. - Sinar Mas Agribusiness

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah saham pada sektor perkebunan layak dicermati oleh para investor seiring dengan tren kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Berdasarkan data dari Bursa Malaysia pada Rabu (6/10/2021), harga CPO untuk kontrak Desember 2021 sempat mencapai harga tertinggi pada 4.879 ringgit per ton sebelum tiba di harga setelmen 4.738 ringgit per ton.

Sementara itu, harga CPO berjangka kontrak pengiriman Januari 2022 terpantau naik 130 poin ke 4.646 ringgit per ton setelah sempat mencapai titik tertingginya pada 4.780 ringgit per ton.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio memaparkan, reli harga CPO menyusul tren serupa pada komoditas energi lain yaitu minyak, gas dan batubara yang terus bullish.

Ia menjelaskan, CPO umumnya digunakan sebagai campuran bahan bakar, khususnya bio diesel yang digunakan untuk mengganti ataupun memperkecil porsi penggunaan minyak bumi sebagai pembangkit listrik.

“Peningkatan permintaan CPO juga dipicu oleh penurunan bea masuk India, yang awalnya 10 persen menjadi 2,5 persen guna penyesuaian akan daya beli masyarakat India akan produk-produk olahan CPO,” katanya saat dihubungi Bisnis pada Rabu (6/10/2021).

Ia mengatakan, tren kenaikan harga CPO akan menopang kenaikan kinerja keuangan emiten-emiten perkebunan. Pasalnya, hal tersebut akan turut mengerek naik harga jual rata-rata untuk CPO yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan.

Adapun, untuk tahun 2022 permintaan terhadap CPO diprediksi masih cukup dinamis mengingat jika harga komoditas energi utama lainnya mengalami penurunan, maka permintaan CPO bisa ikut berkurang. Namun, bila produksi minyak nabati lain seperti kedelai mulai meningkat, diversifikasi penggunaan minyak nabati selain CPO, khususnya di India, akan terjadi.

“Di sisi lain, bila harga komoditas energi masih trend bullish sampai tahun depan, dan faktor cuaca yang menekan produksi minyak nabati lain seperti kedelai dan jagung, maka permintaan CPO akan tetap tinggi yang bakal menopang harganya,” jelas Frankie.

Frankie melanjutkan, saham-saham di sektor sawit terbilang menarik hingga akhir tahun ini. Hal tersebut seiring dengan reli harga pada sektor ini mengikuti saham-saham di sektor batu bara yang sudah lebih dulu menguat.

Ia menyematkan rekomendasi beli untuk saham TBLA dengan target harga Rp1.000 dan SIMP pada level Rp600. Menurutnya, kedua saham tersebut masih cukup menarik dari sisi valuasi dan memiliki potensi upside yang baik.

“Untuk saham-saham sawit lain seperti LSIP dan DSNG saat ini sudah reli cukup tinggi. Investor bisa membelinya jika terjadi koreksi,” pungkasnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham harga cpo emiten perkebunan
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top