Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tersengat Sentimen Tapering, Harga Emas Turun ke Level Terendah dalam 7 Hari

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange merosot US414,6 atau 0,84 persen menjadi ditutup pada US$1.722,90 per ounce.
Ilustrasi emas batangan/ Bloomberg
Ilustrasi emas batangan/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas jatuh ke level terendah dalam tujuh minggu pada perdagangan Kamis (30/9/2021) di Asia, setelah tertekan oleh reli dolar AS dan ekspektasi bawa Federal Reserve AS akan mengurangi pembelian aset dalam waktu dekat.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange merosot US414,6 atau 0,84 persen menjadi ditutup pada US$1.722,90 per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (28/9/2021), emas berjangka juga jatuh US$14,5 atau 0,83 persen menjadi US$1.737,50.

Emas berjangka naik tipis US$0,3 atau 0,02 persen menjadi US$1.752 pada Senin (27/9/2021), setelah sedikit menguat US$1,9 atau 0,11 persen menjadi US$1.751,70 pada Jumat (24/9/2021), dan anjlok US$29 atau 1,63 persen menjadi US$1.749,80 pada Kamis (23/9/2021).

Apresiasi dolar membatasi kenaikan emas, kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

"[Jika] pasar saham menjadi tidak stabil lagi, emas dapat melihat permintaan safe-haven yang lebih baik memasuki bulan Oktober yang penuh gejolak secara historis," tambah Wyckoff.

Greenback yang merupakan safe haven alternatif menguat ke level tertinggi satu tahun terhadap mata uang saingannya, meskipun kebuntuan di Washington atas pembahasan plafon utang AS berisko menjerumuskan pemerintah ke dalam penutupan atau shutdown.

Jika pemerintah mulai ditutup, maka harga emas dan perak dapat terangkat mengingat daya tarik safe haven mereka, ujar Wyckoff.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun mengalami penurunan meskipun bertahan di atas 1,5 persen, level yang tidak terlihat sejak akhir Juni. Level ini masih menjadi tantangan bagi emas.

"Imbal hasil [obligasi AS] telah meningkat di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan oleh The Fed, yang dapat diterjemahkan menjadi lebih banyak kerugian untuk emas," kata analis FXTM Lukman Otunuga. Pasalnya, hal itu akan meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Presiden Fed Bank Philadelphia Patrick Harker mengatakan waktunya sebentar lagi untuk memulai tapering secara perlahan dan metodis. Emas mungkin dipengaruhi oleh pidato dari para gubernur bank sentral serta data ekonomi di Agustus, Otunuga menambahkan.

Logam mulia selain emas, perak untuk pengiriman Desember tercatat turun 98,2 sen atau 4,37 persen dan ditutup pada US$21,485 per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 14,9 dolar AS atau 1,55 persen menjadi ditutup pada US$947 per ounce.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper