Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cek! Ini Rapor Penerbitan SBN Ritel Hingga September 2021

Penawaran SBN terakhir, SR015, mencapai Rp27 triliun, jauh di atas target yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp10 triliun.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 16 September 2021  |  17:30 WIB
Sukuk ritel - Instagram @djpprkemenkeu
Sukuk ritel - Instagram @djpprkemenkeu

Bisnis.com, JAKARTA—Hingga pertengahan September, penghimpunan dana melalui penerbitan surat berharga negara (SBN) Ritel sepanjang 2021 telah mencapai lebih dari Rp70 triliun. Jumlah tersebut telah berada di kisaran target yang dipatok pemerintah untuk tahun ini.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) baru saja menutup penjualan Sukuk Ritel (SR) seri SR015 pada Selasa (14/9/2021).

Penawaran masuk untuk seri tersebut mencapai Rp27 triliun, jauh di atas target yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp10 triliun. Dengan demikian, jumlah serapan dari obligasi ritel telah mencapai Rp77,2 triliun.

Di awal tahun, Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengungkapkan pemerintah memasang target penjualan SBN ritel untuk 2021 di kisaran Rp60—Rp80 triliun. Angka ini tak jauh dari realisasi penerbitan SBN ritel sepanjang 2020 yang mencapai Rp76,78 triliun.

Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Dwi Irianti mengatakan dengan hasil tersebut, maka SR015 mencatat rekor penjualan tertinggi sepanjang sejarah penerbitan SBN ritel secara daring. 

Rekor sebelumnya dicatatkan oleh obligasi ritel (ORI) seri OR019 yang membukukan penjualan senilai Rp26 triliun pada awal tahun ini.

SR015 juga berhasil menggeser SR013 sebagai sukuk ritel terlaris sepanjang sejarah penerbitan secara daring. SR019 yang diterbitkan pada 2020 lalu menghimpun penawaran Rp25,67 triliun.

Adapun pada 2020 lalu, pemerintah telah menerbitkan 6 SBN ritel terdiri atas 1 savings bonds ritel (seri SBR009), 2 sukuk ritel (seri ST012 dan ST013), 2 obligasi negara ritel (seri ORI017 dan ORI018), dan 1 sukuk tabungan (seri ST007). Akumulasi nilai pemesanan keenam SBN ritel tersebut mencapai Rp76,78 triliun.

Seri SR013 menjadi yang paling banyak dipesan dengan jumlah pemesanan yang ditetapkan Rp25,67 triliun. Realisasi tersebut jauh melampaui total pemesanan SBN ritel pada 2019 yang sebesar Rp49,70 triliun. Padahal tahun tersebut pemerintah lebih rajin menerbitkan instrumen ritel yakni hingga 10 seri.

Sebelumnya, Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengungkapkan antusiasme investor terhadap SR015 yang sangat tinggi didorong oleh suku bunga deposito yang rendah dan aktivitas masyarakat yang terbatas. Hal kemudian membuat kebutuhan atas investasi aman, menguntungkan dan likuid sangat dicari, dan SR015 itu menurutnya menjawab kebutuhan tersebut.

Lebih lanjut, Wawan memperkirakan tren suku bunga akan terus rendah hingga akhir tahun ini, dan membuat kupon penerbitan surat berharga negara (SBN) selanjutnya akan lebih kecil. “Tren suku bunga sendiri diperkirakan akan terus rendah hingga tahun depan, sehingga penerbitan ORI berikutnya diprediksi lebih kecil kupon nya, membuat masyarakat tertarik mengejar SR015,” papar Wawan

Penjualan SBN Ritel 2020 - 2021 (Sumber: DJPPR, diolah)

 

2020

Seri

% Kupon

Total Pemesanan (Rp Triliun)

Keterangan

SBR009

6,30 (with floor)

2,25

nontradeable

SR012

6,30

12,14

tradeable

ORI017

6,40

18,33

tradeable

SR013

6,05

25,67

tradeable

ORI018

5,70

12,97

tradeable

ST007

5,50 (with floor)

5,42

nontradeable

TOTAL

 -

76,78

 -

2021

Seri

% Kupon

Total Pemesanan (Rp Triliun)

Keterangan

ORI019

5,57

26,00

tradeable

SR014

5,47

16,70

tradeable

SBR010

5,10 (with floor)

7,50

nontradeable

SR015

5,10 (fixed)

27

tradeable

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sbn surat berharga negara sukuk ritel obligasi ritel
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top