Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Reksa Dana Saham Masih Berpotensi Tertekan pada Semester II/2021, Kenapa?

Sentimen yang mendorong penguatan reksa dana saham pekan lalu masih di dominasi oleh kabar IPO Bukalapak.
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Reksa dana saham mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam sepekan terakhir. Meski demikian, outlook instrumen ini hingga akhir tahun masih dibayangi oleh sejumlah sentimen negatif.

Equity Fund Manager Avrist Asset Management (Avrist AM) Billy Nugraha menjelaskan, sentimen yang mendorong penguatan reksa dana saham pekan lalu masih di dominasi oleh kabar IPO Bukalapak. Menurutnya, respons para investor sangat antusias menyambut kehadiran sebuah stratup teknologi melantai di bursa Indonesia.

“Saham-saham yang berkaitan dengan teknologi dan digital serta health care juga menjadi katalis kenaikan pasar saham ditengah melonjaknya kasus virus corona,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (13/7/2021).

Di sisi lain, Billy melihat potensi reksa dana saham pada paruh kedua tahun 2021 masih cukup tertekan. Hal ini disebabkan oleh pemberlakuan PPKM Darurat untuk menekan penyebaran kasus positif virus corona akan memperlambat laju pemulihan ekonomi.

Sentimen ini akan semakin membebani laju indeks dan perekonomian apabila rencana perpanjangan PPKM Darurat selama 6 pekan terealisasi.

Sementara itu, dari sisi pasar saham, Billy mengatakan pelemahan beberapa sektor akan turut berdampak pada kinerja IHSG dan reksa dana saham. Salah satu segmen yang akan cukup tertekan adalah konsumer seiring dengan melemahnya daya konsumsi masyarakat.

Sektor lain yang pelemahannya akan cukup terasa pada reksa dana saham adalah perbankan. Pelemahan tersebut terjadi karena tekanan pelemahan ekonomi yang mungkin masih akan terjadi.

“Namun bukan tidak mungkin indeks kita bangkit seiring IPO saham saham teknologi. Sentimen ini bisa berdampak positif bagi aliran dana asing masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Adapun, untuk mengantisipasi volatilitas pasar saham di semester II/2021, Billy mengatakan Avrist AM telah melakukan sejumlah strategi. Salah satunya adalah melakukan monitoring yang konstan untuk melakukan sector shifting pada produk reksa dana.

Ia mengatakan, efek yang menjadi pertimbangan pihaknya adalah efek-efek yg memiliki momentum sektoral serta memiliki potensi trading opportunity yang cukup tinggi.

“Apabila ada trading opportunity pada sektor tertentu dengan momentum kuat, kami akan ambil momentum tersebut untuk mengoffsite penurunan saham-saham big caps,” jelasnya.

Avrist AM juga selalu menjaga porsi kas yang dimiliki. Billy mengatakan tujuan langkah tersebut adalah agar Avrist dapat memanfaatkan momentum kenaikan atau penurunan saham.

Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, langkah pemerintah dalam penanganan dan vaksinasi virus corona akan menjadi penentu prospek reksa dana saham di sisa tahun 2021.

Menurutnya, kebijakan-kebijakan penanganan virus corona diterapkan secara efektif dengan vaksinasi yang dilakukan dengan baik akan direspons positif oleh pasar. Sehingga, potensi penguatan IHSG dan reksa dana terkait pun akan terbuka.

“Selain itu, IPO startup teknologi berskala besar juga bisa menjadi sentimen positif untuk reksa dana saham,” tambahnya.

Rudiyanto menambahkan, untuk mengantisipasi volatilitas pasar saham pada semester II/2021, pihaknya akan memanfaatkan momentum IPO Bukalapak untuk turut berpartisipasi dalam penawaran saham perusahaan-perusahaan teknologi.

“Kami juga akan masuk ke sektor saham yang kemungkinan ada earning surprise seperti sektor komoditas yang harganya masih naik,” pungkasnya.

Sementara itu, laporan dari Infovesta Utama menyebutkan, masih lesunya kinerja reksa dana saham disebabkan oleh penurunan yang terjadi di sebagian besar indeks. Contohnya indeks LQ45 mencatatkan kinerja negatif sebesar 4,93%.

Penurunan tersebut menandakan emiten berkapitalisasi besar menghadapi sentimen negatif peningkatan kasus Covid-19 sepanjang bulan Juni yang menyebabkan kekhawatiran adanya perlambatan ekonomi.

Guna mengatasi volatilitas tersebut, investor yang memiliki profil risiko lebih tinggi dapat memilih jenis reksa dana saham non indeks. Investor juga dapat mengalihkan fokusnya kepada reksa dana berbasis saham yang memiliki portfolio sektor yang prospektif hingga akhir tahun 2021.

“Contoh sektor yang masih prospektif adalah seperti teknologi. Investor dapat mendapatkan informasi ini dengan mengamati fund fact sheet produk reksa dana terkait,” demikian kutipan laporan tersebut.

Kinerja Reksa Dana Ytd Hingga 9 Juli 2021

No

Indeks Reksa Dana

Kinerja Ytd s/d 28 Mei 2021

1

Indeks Reksa Dana Saham

-5,45%

2

Indeks Reksa Dana Campuran

-1,18%

3

Indeks Reksa Dana Pendapatan tetap

 0,01%

4

Indeks Reksa Dana Pasar Uang

 1,91%

Sumber: Infovesta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper