Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diusulkan Terima PMN 2022, Saham WSKT dan ADHI Belum Ngegas

Kementerian BUMN meminta tambahan PMN untuk BUMN Karya pada tahun ini Rp26,9 triliun dan mengusulkan PMN Rp38,35 triliun pada 2022.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 08 Juli 2021  |  16:21 WIB
Diusulkan Terima PMN 2022, Saham WSKT dan ADHI Belum Ngegas
Pekerja beraktivitas di proyek yang dikerjakan PT Adhi Karya. - JIBI/Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Saham emiten kontraktor pelat merah PT Waskita Karya (Persero) Tbk. dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. tak bertenaga setelah Menteri BUMN Erick Thohir mengusulkan kedua perusahaan akan disuntik Penanaman Modal Negara (PMN) 2022.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (8/7/2021), saham Waskita Karya dengan ticker WSKT melemah 2,30 persen menjadi Rp850 dan saham Adhi Karya dengan ticker ADHI turun 2,10 persen menjadi Rp700 pada akhir perdagangan.

Dalam rapat kerja dengan Menteri BUMN RI di Komisi VI DPR RI hari ini, Kamis (8/7/2021), Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. akan mendapatkan PMN tambahan 2021 senilai Rp7,9 triliun untuk kebutuhan rekturisasi.

Selanjutnya, Waskita Karya juga akan menerima Rp3 triliun dari PMN 2022 yang juga akan digunakan untuk penguatan permodalan dalam rangka restrukturisasi.

Dari anggaran total PMN 2022 sekitar Rp72,449 triliun, Adhi Karya juga mendapatkan bagian senilai Rp2 triliun yang akan digunakan untuk penugasan penyelesaian tol DIY—Solo, DIY—Bawen, dan proyek SPAM Karian.

Secara khusus, Kementerian BUMN meminta tambahan PMN untuk BUMN Karya pada tahun ini Rp26,9 triliun dan mengusulkan PMN Rp38,35 triliun pada 2022. Dengan demikian, total PMN untuk BUMN Karya sebesar Rp65,25 triliun.

Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wirjoatmodjo menuturkan kondisi BUMN Karya cukup memprihatinkan karena dampak pandemi Covid-19 dan penugasan dari pemerintah.

Saat ini, di antara 6 BUMN Karya, terdapat 2 BUMN yakni Perumnas dan Waskita Karya yang kondisi keuangannya sangat tidak sehat. Dengan rasio utang terhadap EBITDA dan utang terhadap ekuitas Perumnas minus 22,69 kali dan 4,44 kali, sementara Waskita Karya minus 17,26 kali dan 3,92 kali.

Untuk Waskita Karya, sambung Tiko, pada 2015–2016 ditugaskan mengambil alih tol-tol milik swasta yang tidak berkelanjutan untuk diselesaikan. Selama 3 tahun terakhir perseroan menyelesaikan proyek tol Trans Jawa tersebut.

"Ini menyebabkan secara total utang mereka meningkat tajam sekarang mereka memiliki utang Rp50 triliun, obligasi RP20 triliun, serta ke vendor Rp20 triliun," papar Tiko.

Restrukturisasi menyeluruh di Waskita Karya pun dilakukan dengan menggunakan dua skema. Pemerintah mendukung melalui skema penjaminan Rp15 triliun untuk penyelesaian proyek-proyek yang sudah ada dan juga menyuntikan modal baru Rp7,9 triliun terutama untuk memperkuat permodalan.

Kemudian, 2 BUMN kondisi keuangannya terkategori tidak sehat yakni Hutama Karya dan Wijaya karya. HK terbebani penugasan pengembangan tol Trans Sumatera sementara Wika terbebani proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Adapun, dua BUMN karya lainnya yakni Adhi Karya dan PTPP terkategori masih cukup sehat. Namun, tetap mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi untuk ADHI turun 29,27 persen dan PTPP turun 32,84 persen.

"WIKA juga dalam tekanan karena memang adanya kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan modal yang sangat besar sekali dan saat ini ada penurunan pendapatan. Sementara, dari sisi ADHI dan PP lebih baik," urainya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

adhi karya waskita karya bumn karya
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top