Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa AS Keok, Koreksi S&P 500 Terparah Sejak Februari

Inflasi AS naik lebih tinggi dari perkiraan sehingga menambah kekhawatiran bahwa tekanan harga akan menahan pemulihan ekonomi.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 13 Mei 2021  |  05:32 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa saham Amerika Serikat melanjutkan pelemahan setelah sebuah laporan menunjukkan inflasi naik lebih tinggi dari perkiraan.

Pada akhir sesi Rabu (12/5/2021), Indeks Dow Jones turun 1,99 persen menjadi 33.587,660, Indeks S&P 500 koreksi 2,14 persen ke 4.063,040, Indeks Nasdaq turun 2,67 persen menuju 13.031,680.

Dilansir dari Bloomberg, Indeks S&P 500 merosot terparah sejak Februari 2021. Sementara itu, imbal hasil obligasi melonjak setelah sebuah laporan menunjukkan inflasi naik lebih tinggi dari perkiraan sehingga menambah kekhawatiran bahwa tekanan harga akan menahan pemulihan ekonomi.

Saham-saham teknologi memimpin penurunan pasar saham Amerika Serikat (AS). Apple dan Microsoft keok 2,6 persen di Nasdaa 100. Cathie Wood’s ARK Innovation ETF melanjutkan penurunan sehingga telah mencetak kerugian 18 persen tahun ini.

Sektor energi menjadi satu-satunya dari 11 sektor industri yang mampu parkir di zona hijau. Yieald US Treasury melonjak terbesar sejak Maret 2021.

“Pasar telah melambung tinggi dan pembukaan kembali pasar telah diperhitungkan,” ujar Managing Director of Investment Strategy E*Trade Financial Mike Loewengart dilansir dari Bloomberg, Rabu (13/5/2021).

Mike menambahkan bahwa tidak mustahil bahwa data inflasi yang terlalu tinggi akan membawa pergerakan pasar kembali ke level normal.

Saham Eropa ditutup sebagian besar lebih tinggi, terangkat oleh optimisme tentang pembukaan kembali ekonomi dan komoditas yang booming.

Tembaga dan bijih besi berada di jalur untuk rekor baru di tengah ledakan komoditas yang meluas. Minyak stabil di atas US$65 per barel.

Pipa terbesar AS masih ditutup setelah serangan siber yang menyebabkan kekurangan bahan bakar akut di beberapa bagian negara.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham microsoft bursa as amerika serikat apple wall street
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top